Tumimbal Lahir Memang Ngaco Belo


Gambar: chanelduniareptil.blogspot.com

EHIPASSIKO! Artinya datang dan lihat sendiri. Benar. Datang dan lihatlah sendiri bahwa meskipun kebanyakan buddhis mengagul-agulkan dirinya LOGIS dan ILMIAH namun faktanya tidak lebih dari tukang kecap belaka.

Meskipun gembar-gembor ajarannya telah TERUJI dan terbukti LOGIS dan ILMIAH namun kebanyakan justru dongeng belaka. Tanyakan kepada  sepuluh maka seratus Buddhis akan menjawab, “Tumimbal lahir mustahil reinkarnasi sebab tumimbal lahir adalah ajaran Budha yang logis dan ilmiah sedangkan reinkarnasi adalah ajaran Hindu yang tidak logis apalagi ilmiah.” Dari mana para Buddhis tahu tumimbal lahir MUSTAHIL reinkarnasi? Apakah mereka EHIPASSIKO? Apakah mereka melakukan PENGUJIAN? Mustahil! Mustahil ehipassiko bila tidak tahu bahwa tumimbal lahir (Buddha) dan reinkarnasi (Hindu) diterjemahkan dari kata Pali yang sama yaitu: Punabbhava (lafal: punabawa). Tanyakan kepada seratus maka seribu Budhis akan menjawab, “doktrin tumimbal lahir Agama Budha benar-benar LOGIS dan ILMIAH.” Kerabatku sekalian, mari ehipassiko (datang dan lihat sendiri) untuk membuktikan bahwa doktrin tumimbal lahir selain tidak logis dan ilmiah juga menyangkal ajaran Buddha lainnya.

Memberanikan diri bertanya, di dalam buku berjudul: Kajian Tematis Agama Buddha & Agama Kristen, Djoko Mulyono, Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman menulis:

Kehendak,  O Biku, adalah karma yang Aku katakan! Setelah memunculkan kehendak, seseorang menciptakan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Nibbedhika-sutta

Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya. Samyutta Nikaya I:227

Para makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, memiliki karma sebagai penyebab kelahiran kembali, sebagai sanak karma, dan terlindung oleh karmanya sendiri. Karma yang membedakan makhluk yang memiliki keadaan hina dan mulia. Majjhima Nikaya III:203

Agama Buddha percaya bahwa makhluk terlahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan: surga, asura, manusia, binatang, hantu, dan neraka. Kata kunci pengertian kelahiran kembali adalah “muncul kembali”, tidak serupa dengan konsep reinkarnasi Hindu yang mempercayai adanya suatu roh kekal yang bertransmigrasi (meninggalkan tubuh lama dan memasuki tubuh baru). Manusia bisa naik ke alam yang lebih tinggi seperti surga atau turun ke alam yang lebih rendah seperti menjadi binatang atau hantu. Seperti halnya listrik dapat termanifestasi dalam bentuk cahaya, panas, gerakan, demikian pula energi karma dapat termanifestasi dalam bentuk dewa, manusia, binatang, atau makhluk lainnya, di mana satu bentuk tak ada kaitan fisik dengan yang lain. Daripada mengatakan bahwa manusia menjadi binatang, lebih tepat mengatakan bahwa energi karma yang termanifestasi dalam wujud manusia dapat termanifestasi dalam bentuk binatang.

Bengcu Menggugat:

ketika itulah TUHAN Allah membentuk (yatsar) manusia itu dari debu tanah (aphar admah) dan menghembuskan nafas hidup (nashamah chay) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (nephes chay). Kejadian 2:7

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah (banah) seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28

Karena kami tahu, bahwa jika kemah (skenos) tempat kediaman (oikia) kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman (oikodome) di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman (oikia) yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Korintus 5:1

Kerabatku sekalian, kisah penciptaan yang tercatat di dalam Alkitab sangat tegas dan gamblang sehingga mustahil menyangkalnya. Ada TIGA jenis manusia. Manusia jenis pertama tubuhnya DIBENTUK dari debu tanah dan jiwanya DILAHIRKAN dari TUHAN Allah. DILAHIRKAN TUHAN Allah artinya KELUAR dari TUHAN Allah. Manusia jenis kedua namanya lelaki dan perempuan. Yang disebut perempuan DIBANGUN dari tulang rusuk dan daging LELAKI. Dalam bahasa modern namanya KLONING. Yang disebut lelaki adalah manusia JENIS pertama yang diambil rusuk dan dagingnya  untuk membangun perempuan. Manusia jenis ketiga dibangun dari sperma lelaki dan telur wanita. Setelah dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari oleh wanita lalu dilahirkan. Tubuh manusia yang dibentuk dari debu tanah adalah kemah alias cangkang yang akan aus dan mati. Namun setelah tubuhnya mati, jiwa manusia akan mengenakan cangkang baru yang kekal sifatnya.

Agama Hindu mengajarkan bahwa pada mulanya adalah ATMA atau BRAHMAN atau Shang Hyang Widhi Wisesa alias Yang Mulia Mahaesa Yang Mahamula. Atma lalu menjadikan manusia. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwatman. Jiwatman adalah Atma yang lahir dari Brahman dan tinggal di dalam CANGKANG atau tubuh. Ketika tubuhnya mati, Jiwatman pun dilahirkan kembali (Punabbhava) dalam cangkang atau tubuh baru. Dalam tubuh seperti apakah jiwatman dilahirkan kembali? Tergantung KARMA alias perilakunya alias karya baktinya ketika hidup.

Kesamaan ajaran Kristen dan Hindu tentang manusia adalah keduanya mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa alias jasmani dan rohani alias roh dan daging. Perbedaannya adalah Agama Kristen mengajarkan bahwa makluk hidup beranak cucu alias berkembang biak alias MENCIPTAKAN makluk sejenisnya. Itu sebabnya jumlah makluk hidup semakin banyak dari generasi ke generasi. Agama Hindu melalui doktrin reinkarnasinya mengajarkan bahwa jumlah TOTAL makluk hidup tetap namun jumlah makluk menurut wujudnya atau jenisnya berubah-ubah karena KARMA. Doktrin reinkarnasi juga menyangkal ajaran BERKEMBANG BIAK alias BERANAKCUCU alias BERTAMBAH BANYAK.

Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.

Meskipun meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat buddhis juga meyakini tumimbal lahir (Punabbhava) alias reinkarnasi alias dilahirkan kembali (Re birth). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali mustahil jiwatman (jiwa).  Ketika ditanya APA yang dilahirkan kembali? Umat Buddha pun berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menceritakan PROSES kematian. Mereka bilang, ketika menghadapi kematian, seseorang akan MENGENANG (Bhavanga) perilakunya selama hidup lalu MENYADARI kematiannya sedang terjadi (cuti citta). Ketika kesadaran kematiannya (cuti citta) PADAM maka muncullah kesadaran penerusan alias kesadaran untuk melanjutkan hidup alias kesadaran untuk dilahirkan kembali (Patisandhi Vinnana – Patisandhi citta). Setelah mati maka orang itu pun dilahirkan kembali menjadi makluk sesuai dengan KARMA-nya.

Apa yang dilahirkan kembali? Yang dilahirkan kembali bukan JIWA. Lalu apa yang dilahirkan kembali? Kembali para buddhis berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menjelaskan apa ituu tumimbal lahir dengan berkata, “Tumimbal lahir itu ibarat api lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Api dan lilin yang digunakan untuk menyalakan tidak berpindah. Itu sebabnya tetap menyala. Lilin yang dinyalakan menyala karena kondisi memungkinkannya menyala, bukan karena mendapat warisan api dari lilin yang digunakan untuk menyalakannya.”

Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.

LAGU lama JUDUL baru. Itulah yang terjadi. Judul lamanya REINKARNASI. Judul barunya adalah TUMIMBAL LAHIR. Namun lagunya tetap sama yaitu setelah MATI maka BAGIAN yang TIDAK BERWUJUD dari makluk pun MENEMPATI cangkang alias tubuh baru alias WUJUD baru. Bagian tak berwujud itu KEKAL sifatnya alias berperibadi dan PENGETAHUANNYA terus berakumulasi. Itu sebabnya diajarkan bahwa Sidharta BERSAKSI bahwa dia MENGINGAT semua WUJUD atau CANGKANG yang pernah DITEMPATINYA. Itulah BUKTI bahwa BAGIAN tidak berwujud Sidharta Gautama sifatnya PRIBADI dan KEKAL alias ADA terus dan TIDAK bercampur dengan PRIBADI orang lain alias UNIK alias the one and only. Sidharta Gautama itu KEKAL dan PRIBADI. Itu sebabnya ketika dilahirkan jadi tokek dan yang lainnya, dia tetap Sidharta Gautama. Bahkan ketika mencapai Nirwana pun dia tetap Sidharta Gautama, bukan Jokowi atau Ahok apalagi Foke. Gamblang dan tegas sekali bukan? Ajaran tumimbal lahir MENYANGKAL doktrin  Anicca (tidak kekal) dan Anatta (tidak ada roh – tidak ada pribadi).

Menurut ajaran tumimbal lahir alias reinkarnasi WUJUD nanti ditentukan oleh wujud kini dan Karma (perilaku kini) serta Bhavanga (kenangan) sebelum mati.

Wujud nanti = Wujud kini + Karma + Kenangan

Suatu makluk PASTI dilahirkan kembali menjadi DINOSAURUS bila KARMA dan BHAWANGA (KB) untuk lahir sebagai dinosaurus TERPENUHI. Makluk yang menanggung Karma dan bhawanga lahir kembali sebagai DINOSAURUS mustahil lahir kembali jadi KECOA atau TOKEK apalagi burung bangkai. Namun saat ini DINOSAURUS tidak ada lagi. Dinosaurus sudah MUSNAH! Dinosaurus sudah PUNAH!

Apabila doktrin tumimbal lahir Buddha memang LOGIS dan ILMIAH maka punahnya dinosaurus diakibatkan oleh tidak ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir sebagai dinosaurus. Andaikata doktrin Tumimbal lahir agama Buddha memang LOGIS dan ILMIAH, itu berarti SUATU saat nanti bila ada MAKLUK yang MEMENUHI syarat lahir sebagai dinosaurus maka DINOSAURUS pun akan ada LAGI di bumi ini.

Dinosaurus sudah MUSNAH. Dinosaurus sudah PUNAH. Tidak ada dinosaurus lagi di bumi ini. Bila demikian, saat ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus, siapa yang akan MELAHIRKAN dia? Mungkinkah UJUG-UJUG muncul bayi dinosaurus dari ENTAH berentah karena ada MAKLUK yang MATI dan memenuhi Karma  Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus? Ha ha ha ha ha ha …….

Apabila doktrin anatta (tidak ada roh; tidak ada pribadi) dan anicca (tidak ada yang kekal) serta tumimbal lahir memang BENAR serta LOGIS dan ILMIAH maka REINKARNASI bisa dijelaskan sebagai berikut:

ES itu anicca (tidak kekal). ES itu anatta (tidak ada rohnya). Ketika DIPANASKAN (Karma) maka ES pun tumimbal lahir alias reinkarnasi menjadi AIR. Ketika AIR dipanaskan (Karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi gas. Dan Ketika AIR didinginkan (karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi ES.

Ketika ES tumimbal lahir menjadi AIR, maka ES itu pun TIDAK ada lagi alias PUNAH alias PADAM. Kenapa tidak ada LAGI? Karena SUDAH tumimbal lahir alias reinkarnasi alias MENJELMA menjadi AIR. Karena SELURUH ES tumimbal lahir menjadi AIR.

Apabila ES dikubur lalu membusuk jadi tanah atau dibakar menjadi debu kemudian ada mata AIR menyemburkan AIR mustahil dikatakan bahwa AIR dari mata AIR tersebut adalah REINKARNASI atau tumimbal lahir dari ES yang mati lalu dikubur dan membusuk jadi tanah atau dibakar jadi debu tersebut.  Kenapa demikian? Karena ES yang dikubur itu tumimbal lahir menjadi tanah dan ES yang dibakar itu tumimbal lahir menjadi debu dan baik sebagai TANAH maupun sebagai DEBU, TANAH atau DEBU ES itu masih ada.

Apa yang terjadi ketika si Buddhis MATI? Dia TUMIMBAL lahir sebagai bangkai. Bila dikubur bangkai si Buddhis pelan-pelan tumimbal lahir menjadi menjadi TANAH si Buddhis. Bila dibakar, bangkai si Buddhis tumimbal lahir menjadi DEBU. Bila dibekukan dia tetap BANGKAI. Selama tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih ada MUSTAHIL menyatakan bahwa si Buddhis SUDAH dilahirkan KEMBALI. Hanya orang-orang DUNGU yang percaya DONGENG si Buddhis sudah tumimbal lahir menjadi si UCOK dengan LOGIS dan ILMIAH padahal  tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih utuh apa adanya.

Di bawah ini adalah DONGENG yang digunakan oleh kaum Buddhis untuk membuktikan secara LOGIS dan ILMIAH bahwa ajaran REINKARNASI alias TUMIMBAL LAHIR itu memang BENAR.

KISAH GNANATILLAKA

Gnanatillaka adalah namanya, Ia (wanita) dilahirkan pada 14 Februari 1956 di Kotamale, Sri Lanka (Ceylon). Kasus ini berawal di tahun 1960, Ketika ia berumur 4,5 tahun. Waktu itu ia berkata kepada orang tuanya, “Saya ingin bertemu dengan ayah dan ibu saya” “Kami adalah orang tuamu.” jawab ibunya. “Tidak.” Gnanatillaka bersikeras, “Saya ingin bertemu dengan ibu dan ayah saya yang sesungguhnya. Saya akan memberitahukan kamu dimana mereka tinggal. Tolong antar saya ke sana.”

Gnanatillaka menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana menuju rumah dimana orang tuanya yang sesungguhnya tinggal. Rumah itu terletak dekat penampungan teh di Talawakele, sekitar 30 mil dari tempat tinggalnya sekarang.

Kedua orang tua itu mengabaikan cerita gadis kecilnya yang aneh. Setelah berhari-hari berlalu, Gnanatillaka tetap meminta untuk diantar menemui ibu-ayahnya yang sesungguhnya.

Segera berita itu mulai tersebar. Beberapa professor dari Universitas Ceylon dan Bhikkhu Piyadassi Maha Thera juga mengetahui cerita itu. Mereka memutuskan untuk menelitinya. Mereka mendengarkan Gnanatillaka bercerita ketika ia menjadi seorang bocah laki-laki bernama Tilakaratna. Mereka (para peneliti itu) mencatat semua keterangan. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Gnanatillaka, mereka bersama-sama dengan Gnanatillaka pergi menuju kerumah yang dijelaskan oleh Gnanatillaka.

Gnanatillaka belum pernah mengunjungi rumah itu di kehidupan yang sekarang, dia juga belum pernah mengunjungi daerah lokasi rumah itu. Juga kedua keluarga itu tidak saling kenal satu sama lain dan tidak saling mengetahui kehidupan masing-masing.

Ketika Gnanatillaka dan para peneliti itu memasuki rumah itu, Gnanatillaka memperkenalkan para professor kepada kedua orang tua dirumah itu. “Ini adalah ayah dan ibu saya yang sebenarnya.” Lalu ia juga mengenalkan adik laki-lakinya dan kakak-kakak perempuannya. Gnanatillaka menyebut nama-nama kecil saudara-saudarinya dengan tepat.

Lalu kedua orang tua Gnanatillaka di kehidupan sebelumnya itu diwawancarai. Mereka menjelaskan sifat dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal pada 9 November 1954. Ketika Gnanatillaka melihat bekas adik laki-lakinya dalam kehidupan lampau, ia menolak bertemu atau berbicara dengannya. Kemudian orang tua Gnanatillaka di kehidupan lampau menjelaskan bahwa kedua bersaudara itu selalu berkelahi dan bertengkar. Mungkin Gnanatillaka masih menyimpan dendam dari kehidupannya yang lampau ketika dia menjadi seorang anak laki-laki.

Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita tersebut, ia sendiri datang berkunjung. Ketika kepala sekolah memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya.

Gnanatillaka juga dapat mengingat pelajaran-pelajaran dan pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya ketika ia menjadi anak laki-laki dikehidupan sebelumnya.

Gnanatillaka juga dapat menunjukkan tempat pemakaman dimana ia dimakamkan di kehidupannya yang terdahulu sebagai seorang anak laki-laki.

Dengan cepat cerita Gnanatillaka tersebar luas. Seorang peneliti spesialis kasus kelahiran kembali, Dr. Ian Stevenson dari Universitas Virginia, terbang dari Amerika ke Ceylon untuk menyelidiki kasus itu. Setelah penyelidikannya, Dr.Ian mengatakan bahwa kasus Gnanatillaka adalah salah satu peristiwa kelahiran kembali yang terbaik, baik segi bukti maupun dari aspek psikologis.

Sebuah buku menarik tentang kasus Gnanatillaka diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Ceylon. Buku ini menyajikan foto-foto berserta bukti-bukti dokumentasi yang berhasil dikumpulkan.

Bengcu Menggugat:

Kerabatku sekalian, haruskah kita berakata, “WOW …..” begitu atas dongeng reinkarnasi tersebut di atas? Ha ha ha ha …… katakan saja, “HOAX!” begitu. Ha ha ha ha ha ha ……

Anak lelaki itu meninggal 9 November 1954 sedangkan Gnanatillaka lahir 14 Februari 1956. Jumlah hari antara hari kematian anak lelaki itu dan hari kelahiran Gnanatillaka adalah 462 hari. Rata-rata manusia dikandung selama 280 hari. Itu berarti ada selisih 192 hari. Pertanyaannya adalah selama 192 hari anak lelaki itu alias Gnanatillaka luntang lantung ke mana? Jangan-jangan dia tumimbal lahir sebagai tokek dulu kayak Sidharta Gautama? Pada hari ke 192 dia dipatok burung bangkai lalu  tumimbal lahir lagi menjadi Gnanatillaka? Ha ha ha ha ha ha …… LOGIS dan ILMIAH? Ha ha ha ha ha ha … FIKSI ILMIAH lah yao!

413 thoughts on “Tumimbal Lahir Memang Ngaco Belo

  1. pak_abok: 1. motivasi apa anda menulis ginian? apa menurut anda dengan menulis ini untk mengumbar kehebatan agama anda?

    Anggap saja demikian. hai hai benar-benar hebat bukan? ha ha ha ha ha ….

    pak_abok: 2. kenapa anda bilang ‘rebirth’ ngaco belo? bagaimana kl saya jg bilang a*at keja*ian itu lebih ngaco pangkat??

    Karena memang ngaco-belo bukan? ha ha ha ha …..

  2. ah apa benar anda meditasi dan baca parita??

    siapa yg bilang ‘master Chen Yen terlalu terpesona dengan sifat org Kristen’??
    kl ga salah Da/ta= besar , apa hubungan nya sama tuhan??

    newbie mau nanya ni,kenapa tuhan mencipatkan kita bro, tujuan nya?? kenapa ada yg diciptkan jadi kodok, ulat? dll

  3. hinayana imo bkn hina dina tp artinya kecil bro.

    agama kok dijadikan tolak ukur kemajuan rakyat nya hehehee

    kl emang ketetapan tuhan, kenapa rata2 penduduk di afrka penduduknya begitu menderita?

    josafat: Bagaimana pendapatmu jika ada saudaramu, temanmu, tetanggamu tersesat didalam dosa, moha dan lobha, tidakkah anda berusaha mencarinya dan berusaha menariknya keluar dari jalan sesatnya dan menuntunnya ke jalan dharma,

    @josafat:
    dana dharma adalh dana yg paling tinggi, mau dengar, praktek silahkan, tidak mau ya terserah. imo tidak memaksa org untuk harus percaya harus yakin harus ini itu.dll

    Yesus, mnrt ku dia bnyk mencontoh ajaran Budha.
    tabur tuai <—— nah lo detected hehehee

  4. josafat:Babi ngepet( tu bak kai/ siluman babi), kera sakti, siluman rubah, siluman ular, siluman kolor ijo, dll…..itu fakta? Anda terlalu mengkhayal banget! Itu hanya cerita hoax yg tidak ada buktinya dan itu memang cerita yg disukai oleh umat Buddhis yg masih terbelenggu oleh ilusi itu. Anda pasti pernah baca dongeng2 dalam Jataka bukan? Hahahahaha

    @josafat:
    mahluk seprti itu emang ada, apalgi kalo mata batin mu uda terbuka.

  5. itu cuma dompleng nama Maitreya aja, asli nya ya ikuantao/mltt. mirip kris*en terutama dalam menggaet umat2.
    kl medan uda campur2 sama KongHucu yg sdh jadi tradisi turun temurun.
    Dewa2 memang ada mnrt Budha dan ada level2 nya.

  6. bro mnrt aku imo, dl manusia itu masih sikit dan daratan ini luas skali dan benua2 itu masih rapat, manusia bisa degn cpt menjangkau gunung dll. ya org2 zaman dulu berukuran raksasa. dl mungkin aja cicak itu sprt buaya skrg. dll

    zaman kita skrg ini luas daratan sdh berkurang, manusia bnyk tp umur nya makin pendek, dan ukuran tubuh jg makin kecil .

  7. Anda memang mempelajari agama Buddha, tapi tidak dengan hati. Anda mempelajarinya hanya untuk mencari2 kesalahan dan digunakan utk menyerang. Anda sendiri menyatakan mana uraian anda yg salah. Saya tidak begitu memperhatikan dengan seksama uraian anda, tapi saya baca ada satu uraian yg memang salah. Yaitu tentang alam kehidupan. Dalam agama Buddha dijelaskan ada 31 alam kehidupan, bukan 6 alam. Ajaran Buddha bukan cuma 1 buku dan berisi hanya ratusan halaman. Tapi ada puluhan kitab sucinya. Dan ribuan halaman. Seumur hidup kita, kita takkan pernah bisa memahami semuanya kalau cuma membaca, apalagi tidak pakai hati. Saya beri kutipan sebuah kitab Milinda Panha (Perdebatan Raja Milinda dan Ven. Nagasena) tentang kelahiran kembali. Silahkan anda baca dengan seksama, jangan asal ngomong saja. Saya hanya meluruskan jika ada yang membelokkan ajaran Sang Buddha. Dihina atau tidak, dipercaya atau tidak, kebenaran tetap kebenaran! Takkan pernah berubah.

    Kutipan Milinda Panha Bab II

    KELAHIRAN KEMBALI

    1. “Orang yang terlahir kembali, Nagasena, apakah dia orang yang sama atau berbeda?”
    “Bukan sama namun juga bukan berbeda.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Sama halnya seperti susu yang pertama-tama berubah menjadi dadih lalu menjadi mentega dan kemudian menjadi ghee. Tidak benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih tersebut sama dengan susu, tetapi semuanya itu berasal dari susu. Begitu juga tidaklah benar bila dikatakan bahwa ghee, mentega, dan dadih itu sesuatu yang bukan susu.”

    2. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali itu menyadari tentang kenyataan ini?”
    “Ya, baginda.”
    “Bagaimana dia tahu?”
    “Dengan lenyapnya semua yang menjadi penyebab atau kondisi dari kelahiran kembali. Seperti halnya seorang petani yang tidak membajak atau menabur atau memanen akan mengetahui bahwa lumbungnya tidak akan terisi.”

    3. “Nagasena, di dalam diri seseorang di mana pengetahuan (ñana) telah timbul, apakah kebijaksanaan (pañña) juga timbul?”
    “Ya, baginda.”
    “Apakah pengetahuan sama dengan kebijaksanaan?”
    “Ya, baginda.”
    “Kalau begitu, apakah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan itu ada kemungkinan dia tidak mengetahui tentang suatu hal?”
    “Dia akan tetap berada di dalam ketidaktahuan tentang hal-hal yang belum dipelajarinya. Akan tetapi mengenai hal yang telah dicapai oleh kebijaksanaan -yaitu pemahaman tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tidak-adanya-diri- dia tidak akan tidak tahu.”
    “Kalau begitu, apa yang terjadi pada pandangan kelirunya tentang hal-hal itu tadi?”
    “Pada saat pengetahuan muncul, pada saat itu pula pandangan salahnya lenyap. Seperti ketika sinar datang, maka kegelapan pun hilang.”
    “Tetapi apa yang terjadi pada kebijaksanaannya?”
    “Setelah melakukan tugasnya, kebijaksanaan itu kemudian lenyap; tetapi pengertian orang itu tentang ketidakkekalan, ketidakpuasan dan tidak-adanya-diri tidak ikut lenyap.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya orang yang ingin menulis surat pada malam hari akan menyalakan lampu dan kemudian menulis surat tersebut. Setelah selesai dia akan memadamkan lampu. Tetapi meskipun lampu telah dipadamkan, suratnya tetap ada.”

    4. “Apakah orang yang tidak akan terlahir kembali merasakan kesakitan?”
    “Mungkin dia merasakan kesakitan fisik, O baginda, tetapi bukan kesakitan mental.”
    “Jika dia merasakan kesakitan fisik, mengapa dia tidak mati saja dan mencapai keadaan lenyapnya kemelekatan, dan menghentikan penderitaan?”
    “Arahat tidak memiliki kesukaan atau kebencian terhadap kehidupan. Dia tidak menggoncangkan pohon agar buahnya yang masih belum matang jatuh, melainkan menanti sehingga buahnya masak. Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:

    ‘Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
    Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
    Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
    Dengan waspada dan jelas mengerti,
    Begitulah aku menantikan waktuku’.”1
    5. “Apakah perasaan yang menyenangkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau netral?”
    “Mungkin salah satu di antara tiga itu.”
    “Tetapi, Yang Mulia, tentunya jika kondisi yang bermanfaat itu tidak menyakitkan, sedangkan yang menyakitkan itu tidak bermanfaat, maka tidak akan mungkin ada keadaan yang bermanfaat yang sekaligus menyakitkan.”2
    “Bagaimana pendapat baginda seandainya saja ada orang yang memegang bola besi panas di satu tangannya, dan di tangan lain menggenggam bongkah es, apakah kedua-duanya akan menyakitkan orang itu?”
    “Tentu saja.”
    “Kalau begitu hipotesa baginda pasti keliru. Jika keduanya tidak sama-sama panas, tetapi rasa panas itu menyakitkan, atau jika keduanya tidak sama-sama dingin, tetapi rasa dingin itu menyakitkan, maka rasa sakit itu tidak datang dari rasa panas atau dingin.”
    “Aku tidak mampu berbantahan dengan Anda. Tolong jelaskan.”
    Kemudian Nagasena mengajarkan Abhidhamma:- “Ada enam rasa senang yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dan enam yang berhubungan dengan kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; enam kesengsaraan di dalam kehidupan duniawi dan enam di dalam kehidupan orang yang telah meninggalkan keduniawian; dan enam perasaan netral pada kedua-duanya. Semuanya ada tiga puluh enam. Kemudian ada tiga puluh enam perasaan pada masa lalu, pada masa kini, dan semuanya ada seratus delapan perasaan.”

    6. “Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?’
    “Batin dan jasmani.”
    “Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?”
    “Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”
    “Berikanlah ilustrasi.”
    “Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala. Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain, lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut. Bila dia berkata, ‘Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini. Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah’, apakah dia patut dihukum?”
    “Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya.”
    “Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali; tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”

    7. “Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?”
    “Apa gunanya menanyakan hal itu lagi? Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya, maka saya akan terlahir kembali? Jika tidak, ya tidak.”

    8. “Anda tadi baru saja menjelaskan tentang batin dan jasmani. Apakah batin itu, dan apakah jasmani itu?”
    “Apa pun yang kasar adalah jasmani (materi). Apa pun yang halus dan pikiran atau keadaan mental, adalah batin (mentalitas).”
    “Mengapa jasmani dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?”
    “Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya. Keduanya selalu timbul bersama dan hubungan ini sudah ada sejak waktu yang lama sekali.” 3

    9. “Nagasena, ketika Anda mengatakan, ‘Waktu yang lama sekali’, apakah artinya? Apakah ‘waktu’ itu ada?”
    “Waktu berarti masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Bagi beberapa orang, waktu itu ada; bagi orang lain tidak. Di mana ada makhluk yang akan dilahirkan kembali, bagi mereka waktu itu ada; di mana ada makhluk yang tidak akan terlahir kembali, bagi mereka waktu itu tidak ada.”
    “Bagus sekali, Nagasena, Anda pandai menjawab.”

    Catatan:

    Thag.1002,1003.
    Perbuatan-perbuatan bajik tidak menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita sulit melakukannya karena kemelekatan dan kebencian kita. Padahal kekotoran batinlah yang menyebabkan kita menderita bukan perbuatan bajik. Perbuatan-perbuatan jahat menyakitkan hasilnya, tetapi mungkin kita senang melakukannya karena kebodohan kita. Kemudian bila hasilnya datang, kita harus menderita.
    Rhys Davids, dengan menggunakan Teks Sinhala, membaca kalimat ini sebagai evametam dighamaddhanam sambhavitam tetapi di Teks Burma tertulis: sandhavitam.

  8. Anda pernah baca kitab ini? Coba deh, isinya seru banget. Ini baru debat yang baik.

  9. Yaya: Saya tidak begitu memperhatikan dengan seksama uraian anda,

    Baca dulu yang teliti dan hati hati baru kasih komentar kisanak. ha ha ha ha …

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.