
Gambar: chanelduniareptil.blogspot.com
EHIPASSIKO! Artinya datang dan lihat sendiri. Benar. Datang dan lihatlah sendiri bahwa meskipun kebanyakan buddhis mengagul-agulkan dirinya LOGIS dan ILMIAH namun faktanya tidak lebih dari tukang kecap belaka.
Meskipun gembar-gembor ajarannya telah TERUJI dan terbukti LOGIS dan ILMIAH namun kebanyakan justru dongeng belaka. Tanyakan kepada sepuluh maka seratus Buddhis akan menjawab, “Tumimbal lahir mustahil reinkarnasi sebab tumimbal lahir adalah ajaran Budha yang logis dan ilmiah sedangkan reinkarnasi adalah ajaran Hindu yang tidak logis apalagi ilmiah.” Dari mana para Buddhis tahu tumimbal lahir MUSTAHIL reinkarnasi? Apakah mereka EHIPASSIKO? Apakah mereka melakukan PENGUJIAN? Mustahil! Mustahil ehipassiko bila tidak tahu bahwa tumimbal lahir (Buddha) dan reinkarnasi (Hindu) diterjemahkan dari kata Pali yang sama yaitu: Punabbhava (lafal: punabawa). Tanyakan kepada seratus maka seribu Budhis akan menjawab, “doktrin tumimbal lahir Agama Budha benar-benar LOGIS dan ILMIAH.” Kerabatku sekalian, mari ehipassiko (datang dan lihat sendiri) untuk membuktikan bahwa doktrin tumimbal lahir selain tidak logis dan ilmiah juga menyangkal ajaran Buddha lainnya.
Memberanikan diri bertanya, di dalam buku berjudul: Kajian Tematis Agama Buddha & Agama Kristen, Djoko Mulyono, Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman menulis:
Kehendak, O Biku, adalah karma yang Aku katakan! Setelah memunculkan kehendak, seseorang menciptakan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Nibbedhika-sutta
Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya. Samyutta Nikaya I:227
Para makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, memiliki karma sebagai penyebab kelahiran kembali, sebagai sanak karma, dan terlindung oleh karmanya sendiri. Karma yang membedakan makhluk yang memiliki keadaan hina dan mulia. Majjhima Nikaya III:203
Agama Buddha percaya bahwa makhluk terlahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan: surga, asura, manusia, binatang, hantu, dan neraka. Kata kunci pengertian kelahiran kembali adalah “muncul kembali”, tidak serupa dengan konsep reinkarnasi Hindu yang mempercayai adanya suatu roh kekal yang bertransmigrasi (meninggalkan tubuh lama dan memasuki tubuh baru). Manusia bisa naik ke alam yang lebih tinggi seperti surga atau turun ke alam yang lebih rendah seperti menjadi binatang atau hantu. Seperti halnya listrik dapat termanifestasi dalam bentuk cahaya, panas, gerakan, demikian pula energi karma dapat termanifestasi dalam bentuk dewa, manusia, binatang, atau makhluk lainnya, di mana satu bentuk tak ada kaitan fisik dengan yang lain. Daripada mengatakan bahwa manusia menjadi binatang, lebih tepat mengatakan bahwa energi karma yang termanifestasi dalam wujud manusia dapat termanifestasi dalam bentuk binatang.
Bengcu Menggugat:
ketika itulah TUHAN Allah membentuk (yatsar) manusia itu dari debu tanah (aphar admah) dan menghembuskan nafas hidup (nashamah chay) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (nephes chay). Kejadian 2:7
Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah (banah) seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22
Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28
Karena kami tahu, bahwa jika kemah (skenos) tempat kediaman (oikia) kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman (oikodome) di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman (oikia) yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Korintus 5:1
Kerabatku sekalian, kisah penciptaan yang tercatat di dalam Alkitab sangat tegas dan gamblang sehingga mustahil menyangkalnya. Ada TIGA jenis manusia. Manusia jenis pertama tubuhnya DIBENTUK dari debu tanah dan jiwanya DILAHIRKAN dari TUHAN Allah. DILAHIRKAN TUHAN Allah artinya KELUAR dari TUHAN Allah. Manusia jenis kedua namanya lelaki dan perempuan. Yang disebut perempuan DIBANGUN dari tulang rusuk dan daging LELAKI. Dalam bahasa modern namanya KLONING. Yang disebut lelaki adalah manusia JENIS pertama yang diambil rusuk dan dagingnya untuk membangun perempuan. Manusia jenis ketiga dibangun dari sperma lelaki dan telur wanita. Setelah dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari oleh wanita lalu dilahirkan. Tubuh manusia yang dibentuk dari debu tanah adalah kemah alias cangkang yang akan aus dan mati. Namun setelah tubuhnya mati, jiwa manusia akan mengenakan cangkang baru yang kekal sifatnya.
Agama Hindu mengajarkan bahwa pada mulanya adalah ATMA atau BRAHMAN atau Shang Hyang Widhi Wisesa alias Yang Mulia Mahaesa Yang Mahamula. Atma lalu menjadikan manusia. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwatman. Jiwatman adalah Atma yang lahir dari Brahman dan tinggal di dalam CANGKANG atau tubuh. Ketika tubuhnya mati, Jiwatman pun dilahirkan kembali (Punabbhava) dalam cangkang atau tubuh baru. Dalam tubuh seperti apakah jiwatman dilahirkan kembali? Tergantung KARMA alias perilakunya alias karya baktinya ketika hidup.
Kesamaan ajaran Kristen dan Hindu tentang manusia adalah keduanya mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa alias jasmani dan rohani alias roh dan daging. Perbedaannya adalah Agama Kristen mengajarkan bahwa makluk hidup beranak cucu alias berkembang biak alias MENCIPTAKAN makluk sejenisnya. Itu sebabnya jumlah makluk hidup semakin banyak dari generasi ke generasi. Agama Hindu melalui doktrin reinkarnasinya mengajarkan bahwa jumlah TOTAL makluk hidup tetap namun jumlah makluk menurut wujudnya atau jenisnya berubah-ubah karena KARMA. Doktrin reinkarnasi juga menyangkal ajaran BERKEMBANG BIAK alias BERANAKCUCU alias BERTAMBAH BANYAK.
Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.
Meskipun meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat buddhis juga meyakini tumimbal lahir (Punabbhava) alias reinkarnasi alias dilahirkan kembali (Re birth). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali mustahil jiwatman (jiwa). Ketika ditanya APA yang dilahirkan kembali? Umat Buddha pun berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menceritakan PROSES kematian. Mereka bilang, ketika menghadapi kematian, seseorang akan MENGENANG (Bhavanga) perilakunya selama hidup lalu MENYADARI kematiannya sedang terjadi (cuti citta). Ketika kesadaran kematiannya (cuti citta) PADAM maka muncullah kesadaran penerusan alias kesadaran untuk melanjutkan hidup alias kesadaran untuk dilahirkan kembali (Patisandhi Vinnana – Patisandhi citta). Setelah mati maka orang itu pun dilahirkan kembali menjadi makluk sesuai dengan KARMA-nya.
Apa yang dilahirkan kembali? Yang dilahirkan kembali bukan JIWA. Lalu apa yang dilahirkan kembali? Kembali para buddhis berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menjelaskan apa ituu tumimbal lahir dengan berkata, “Tumimbal lahir itu ibarat api lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Api dan lilin yang digunakan untuk menyalakan tidak berpindah. Itu sebabnya tetap menyala. Lilin yang dinyalakan menyala karena kondisi memungkinkannya menyala, bukan karena mendapat warisan api dari lilin yang digunakan untuk menyalakannya.”
Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.
LAGU lama JUDUL baru. Itulah yang terjadi. Judul lamanya REINKARNASI. Judul barunya adalah TUMIMBAL LAHIR. Namun lagunya tetap sama yaitu setelah MATI maka BAGIAN yang TIDAK BERWUJUD dari makluk pun MENEMPATI cangkang alias tubuh baru alias WUJUD baru. Bagian tak berwujud itu KEKAL sifatnya alias berperibadi dan PENGETAHUANNYA terus berakumulasi. Itu sebabnya diajarkan bahwa Sidharta BERSAKSI bahwa dia MENGINGAT semua WUJUD atau CANGKANG yang pernah DITEMPATINYA. Itulah BUKTI bahwa BAGIAN tidak berwujud Sidharta Gautama sifatnya PRIBADI dan KEKAL alias ADA terus dan TIDAK bercampur dengan PRIBADI orang lain alias UNIK alias the one and only. Sidharta Gautama itu KEKAL dan PRIBADI. Itu sebabnya ketika dilahirkan jadi tokek dan yang lainnya, dia tetap Sidharta Gautama. Bahkan ketika mencapai Nirwana pun dia tetap Sidharta Gautama, bukan Jokowi atau Ahok apalagi Foke. Gamblang dan tegas sekali bukan? Ajaran tumimbal lahir MENYANGKAL doktrin Anicca (tidak kekal) dan Anatta (tidak ada roh – tidak ada pribadi).
Menurut ajaran tumimbal lahir alias reinkarnasi WUJUD nanti ditentukan oleh wujud kini dan Karma (perilaku kini) serta Bhavanga (kenangan) sebelum mati.
Wujud nanti = Wujud kini + Karma + Kenangan
Suatu makluk PASTI dilahirkan kembali menjadi DINOSAURUS bila KARMA dan BHAWANGA (KB) untuk lahir sebagai dinosaurus TERPENUHI. Makluk yang menanggung Karma dan bhawanga lahir kembali sebagai DINOSAURUS mustahil lahir kembali jadi KECOA atau TOKEK apalagi burung bangkai. Namun saat ini DINOSAURUS tidak ada lagi. Dinosaurus sudah MUSNAH! Dinosaurus sudah PUNAH!
Apabila doktrin tumimbal lahir Buddha memang LOGIS dan ILMIAH maka punahnya dinosaurus diakibatkan oleh tidak ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir sebagai dinosaurus. Andaikata doktrin Tumimbal lahir agama Buddha memang LOGIS dan ILMIAH, itu berarti SUATU saat nanti bila ada MAKLUK yang MEMENUHI syarat lahir sebagai dinosaurus maka DINOSAURUS pun akan ada LAGI di bumi ini.
Dinosaurus sudah MUSNAH. Dinosaurus sudah PUNAH. Tidak ada dinosaurus lagi di bumi ini. Bila demikian, saat ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus, siapa yang akan MELAHIRKAN dia? Mungkinkah UJUG-UJUG muncul bayi dinosaurus dari ENTAH berentah karena ada MAKLUK yang MATI dan memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus? Ha ha ha ha ha ha …….
Apabila doktrin anatta (tidak ada roh; tidak ada pribadi) dan anicca (tidak ada yang kekal) serta tumimbal lahir memang BENAR serta LOGIS dan ILMIAH maka REINKARNASI bisa dijelaskan sebagai berikut:
ES itu anicca (tidak kekal). ES itu anatta (tidak ada rohnya). Ketika DIPANASKAN (Karma) maka ES pun tumimbal lahir alias reinkarnasi menjadi AIR. Ketika AIR dipanaskan (Karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi gas. Dan Ketika AIR didinginkan (karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi ES.
Ketika ES tumimbal lahir menjadi AIR, maka ES itu pun TIDAK ada lagi alias PUNAH alias PADAM. Kenapa tidak ada LAGI? Karena SUDAH tumimbal lahir alias reinkarnasi alias MENJELMA menjadi AIR. Karena SELURUH ES tumimbal lahir menjadi AIR.
Apabila ES dikubur lalu membusuk jadi tanah atau dibakar menjadi debu kemudian ada mata AIR menyemburkan AIR mustahil dikatakan bahwa AIR dari mata AIR tersebut adalah REINKARNASI atau tumimbal lahir dari ES yang mati lalu dikubur dan membusuk jadi tanah atau dibakar jadi debu tersebut. Kenapa demikian? Karena ES yang dikubur itu tumimbal lahir menjadi tanah dan ES yang dibakar itu tumimbal lahir menjadi debu dan baik sebagai TANAH maupun sebagai DEBU, TANAH atau DEBU ES itu masih ada.
Apa yang terjadi ketika si Buddhis MATI? Dia TUMIMBAL lahir sebagai bangkai. Bila dikubur bangkai si Buddhis pelan-pelan tumimbal lahir menjadi menjadi TANAH si Buddhis. Bila dibakar, bangkai si Buddhis tumimbal lahir menjadi DEBU. Bila dibekukan dia tetap BANGKAI. Selama tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih ada MUSTAHIL menyatakan bahwa si Buddhis SUDAH dilahirkan KEMBALI. Hanya orang-orang DUNGU yang percaya DONGENG si Buddhis sudah tumimbal lahir menjadi si UCOK dengan LOGIS dan ILMIAH padahal tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih utuh apa adanya.
Di bawah ini adalah DONGENG yang digunakan oleh kaum Buddhis untuk membuktikan secara LOGIS dan ILMIAH bahwa ajaran REINKARNASI alias TUMIMBAL LAHIR itu memang BENAR.
Gnanatillaka adalah namanya, Ia (wanita) dilahirkan pada 14 Februari 1956 di Kotamale, Sri Lanka (Ceylon). Kasus ini berawal di tahun 1960, Ketika ia berumur 4,5 tahun. Waktu itu ia berkata kepada orang tuanya, “Saya ingin bertemu dengan ayah dan ibu saya” “Kami adalah orang tuamu.” jawab ibunya. “Tidak.” Gnanatillaka bersikeras, “Saya ingin bertemu dengan ibu dan ayah saya yang sesungguhnya. Saya akan memberitahukan kamu dimana mereka tinggal. Tolong antar saya ke sana.”
Gnanatillaka menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana menuju rumah dimana orang tuanya yang sesungguhnya tinggal. Rumah itu terletak dekat penampungan teh di Talawakele, sekitar 30 mil dari tempat tinggalnya sekarang.
Kedua orang tua itu mengabaikan cerita gadis kecilnya yang aneh. Setelah berhari-hari berlalu, Gnanatillaka tetap meminta untuk diantar menemui ibu-ayahnya yang sesungguhnya.
Segera berita itu mulai tersebar. Beberapa professor dari Universitas Ceylon dan Bhikkhu Piyadassi Maha Thera juga mengetahui cerita itu. Mereka memutuskan untuk menelitinya. Mereka mendengarkan Gnanatillaka bercerita ketika ia menjadi seorang bocah laki-laki bernama Tilakaratna. Mereka (para peneliti itu) mencatat semua keterangan. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Gnanatillaka, mereka bersama-sama dengan Gnanatillaka pergi menuju kerumah yang dijelaskan oleh Gnanatillaka.
Gnanatillaka belum pernah mengunjungi rumah itu di kehidupan yang sekarang, dia juga belum pernah mengunjungi daerah lokasi rumah itu. Juga kedua keluarga itu tidak saling kenal satu sama lain dan tidak saling mengetahui kehidupan masing-masing.
Ketika Gnanatillaka dan para peneliti itu memasuki rumah itu, Gnanatillaka memperkenalkan para professor kepada kedua orang tua dirumah itu. “Ini adalah ayah dan ibu saya yang sebenarnya.” Lalu ia juga mengenalkan adik laki-lakinya dan kakak-kakak perempuannya. Gnanatillaka menyebut nama-nama kecil saudara-saudarinya dengan tepat.
Lalu kedua orang tua Gnanatillaka di kehidupan sebelumnya itu diwawancarai. Mereka menjelaskan sifat dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal pada 9 November 1954. Ketika Gnanatillaka melihat bekas adik laki-lakinya dalam kehidupan lampau, ia menolak bertemu atau berbicara dengannya. Kemudian orang tua Gnanatillaka di kehidupan lampau menjelaskan bahwa kedua bersaudara itu selalu berkelahi dan bertengkar. Mungkin Gnanatillaka masih menyimpan dendam dari kehidupannya yang lampau ketika dia menjadi seorang anak laki-laki.
Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita tersebut, ia sendiri datang berkunjung. Ketika kepala sekolah memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya.
Gnanatillaka juga dapat mengingat pelajaran-pelajaran dan pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya ketika ia menjadi anak laki-laki dikehidupan sebelumnya.
Gnanatillaka juga dapat menunjukkan tempat pemakaman dimana ia dimakamkan di kehidupannya yang terdahulu sebagai seorang anak laki-laki.
Dengan cepat cerita Gnanatillaka tersebar luas. Seorang peneliti spesialis kasus kelahiran kembali, Dr. Ian Stevenson dari Universitas Virginia, terbang dari Amerika ke Ceylon untuk menyelidiki kasus itu. Setelah penyelidikannya, Dr.Ian mengatakan bahwa kasus Gnanatillaka adalah salah satu peristiwa kelahiran kembali yang terbaik, baik segi bukti maupun dari aspek psikologis.
Sebuah buku menarik tentang kasus Gnanatillaka diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Ceylon. Buku ini menyajikan foto-foto berserta bukti-bukti dokumentasi yang berhasil dikumpulkan.
Bengcu Menggugat:
Kerabatku sekalian, haruskah kita berakata, “WOW …..” begitu atas dongeng reinkarnasi tersebut di atas? Ha ha ha ha …… katakan saja, “HOAX!” begitu. Ha ha ha ha ha ha ……
Anak lelaki itu meninggal 9 November 1954 sedangkan Gnanatillaka lahir 14 Februari 1956. Jumlah hari antara hari kematian anak lelaki itu dan hari kelahiran Gnanatillaka adalah 462 hari. Rata-rata manusia dikandung selama 280 hari. Itu berarti ada selisih 192 hari. Pertanyaannya adalah selama 192 hari anak lelaki itu alias Gnanatillaka luntang lantung ke mana? Jangan-jangan dia tumimbal lahir sebagai tokek dulu kayak Sidharta Gautama? Pada hari ke 192 dia dipatok burung bangkai lalu tumimbal lahir lagi menjadi Gnanatillaka? Ha ha ha ha ha ha …… LOGIS dan ILMIAH? Ha ha ha ha ha ha … FIKSI ILMIAH lah yao!
@ handy prazt : mengenai dosa, menurut anda apabila seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, apakah ia berdosa menurut anda?
Bagaimana anda bisa bilang itu bukan kasih jika ada domba tersesat dan orang Kristen berusaha mencari domba sesat itu agar ditemukan kembali? Yesus juga memberikan perumpamaan dalam Matius 18:12-14 : Yesus berkata, “Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.
Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”
Bukankah itu kasih? Bagaimana pendapatmu jika ada saudaramu, temanmu, tetanggamu tersesat didalam dosa, moha dan lobha, tidakkah anda berusaha mencarinya dan berusaha menariknya keluar dari jalan sesatnya dan menuntunnya ke jalan dharma, walaupun ada perlawanan dari domba sesa itu??? Kecuali anda dan umat buddhis menganggapnya semua itu hanya ilusi dan tidak ada urgensinya!!! Dan anda telah mengakuinya itu semua hanya ilusi bukan?. Itulah pandangan salah Anda yg tercakup dalam MOHA karena Avijja. Dan itulah yang saya pahami dan saya memberitahukan anda itu ilusi yg menyesatkan dan anda berusaha masuk untuk mengapainya! Makanya saya bilang case closed tapi anda tetap bandel mau masuk ke jalan sesat yg penuh ilusi itu, SADARLAH SAHABATKU YG KUKASIHI, mana tahu anda ini domba yg tersesat bukan kambing yg terjerat!
Jadi sorry aja, kalo anda ingin mengatakan bahwa kalo ada kasih orang Kristen tidak perlu cari domba tersesat (penginjilan) maka dia bukanlah orang Kristen sejati!!! Justru itu namanya TIDAK ADA KASIH sahabatku!!!
Dalam hal ini umat buddhis tidak perlu bersifat pura2 baik dan seakan-akan seperti arahat yg tidak peduli dan egoistik melihat manusia tersesat tidak peduli lagi!!! Mahayana lebih elegan masih memiliki bodhisatva – mahasatva yg punya kasih mencari domba2 tersesat…….itulah filosofi Buddhisme Mahayana yg jauh lebih tercerahkan dibandingkan aliranTheravada yg dulunya dihina sebagi HINAYANA itu! Anda bisa buktikan sendiri negara yg menganut Buddha Mahayana lebih baik kondisi rakyatnya dibandingkan negara2 yg menganut Buddha Therevada, mengapa seperti itu saudaraku? Itu bukan karna karma tetapi ketetapan Tuhan semesta alam, yang berhati baik akan mendapatkan hal yg baik. Itulah hukum tabur tuai. hahahahaha.
jika anda bertanya kepada saya apakah saya paham mana ilusi dan mana sang jalan? Maka jawaban saya adalah sama seperti anda, saya tak tahu. Dengan kepintaran manusia dan pengetahuan manusia yg dibungkus dengan segala hikmat yg dia miliki tidak akan mampu memahami mana itu ilusi, mana itu realita yg menuju ke sang jalan itu! Jadi demikian adakah yg tahu, tentu saja ada yg tahu hal itu yaitu Yesus Kristus yg menyatakan diriNya sebagai Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Yesus lah yg membuka tabir kabut itu agar manusia mengerti realita yg sebenarnya.
@ handy prazt : manusia yg berbudi pekerti baik tahu apa itu ” rasa berterimakasih” kepada orang yg menolong kita dlm hal ini Yesus. Menurut anda pantaskah saya melecehkan org yg telah menolong saya dan rela mati menebus dosa saya? Apakah saya masih mau berkumbangan dalam dosa agar kelihatan kasih Yesus makin besar? Hahahahaha
Terus terang dari statement2 Anda semuanya kelihatan sekali Anda belum mengerti ajaran kekristenan, dan hal ini saya anggap Anda masih terjebak dalam moha….
Saat ini saya BEYOND RELIGION, sahabat …. silahkan anda mengagulkan agamamu, kejarlah semua domba yg menurutmu sedang tersesat. Masing-masing manusia harusnya bisa merasakan jalan kebajikan yg cocok dengan karakternya, apakah akan menempuh jalan Bodhisatwa ataukah savaka. Bagi saya, yang terpenting adalah pengendalian serakah, benci dan pandangan salah. Rajinlah mengamati motif perbuatan anda, karena hanya diri sendiirilah yg mangetahui dg jujur latar belakang sebuah perbuatan dilakukan. SAAT HASIL YG DITUAI ADALAH KEBAJIKAN DAN TIADA PERTENTANGAN YG MUNCUL … maka itu sdh merupakan cara yg benar. SELAMAT BERBURU SAHABAT YG BAIK ….
No offense atas tanggapan anda sahabat Yosaphat, saya menghargainya. Hanya di topik ‘HATI YG TIDAK BERES”, saat pikiran dan perasaan sdh mampu dikuasai … menurut saya pernyataan yg membingungkan. HATI …. bila yg anda maksudkan adalah KESADARAN YG MURNI …. hehehe … hanyalah KESADARAN, saat perasaan dan reaksi pikiran sdh mampu anda kendalikan … “HATI YG MANAKAH YG TIDAK BERES TERSEBUT …. ?” Manusia adalah mahluk yg dikuasai PERASAAN DAN KEBIASAAN PIKIRANNYA BEREAKSI … NOTHING MORE THAN THIS !
Handy Prazt: Sudah keduluan SINIS, ya gini jadinya …. hahaha … Ajaran Buddha hanyalah menyempurnakan Hindu, agar tujuan moksha (menyatu dg Brahman/ Tuhan pencipta) bisa direalisasi dg CARA/JALAN yg jelas. Di Hindu ajaran disebut DHARMA, TAK BEDA sebutan dg DHARMA (ajaran Buddha). Akar kejahatan di Hindu disebut AVIDYA (kETIDAKTAHUAN) terdiri dari LOBHA/SERAKAH, DOSA/KEBENCIAN DAN MOHA (KEBODOHAN, PANDANGAN SALAH), tidak beda dg AVIJJA dg arti dan penjabaran yg sama berdasar ajaran Buddha. Pencapaian RUPA JHANA DAN ARUPA JHANA (hasil dari SAMATHA = MEDITASI KETENANGAN) … yg memungkinkan seseorang untuk mencapai abhinna dan iddhivada … adalah ajaran yg dipelajari Buddha dari gurunya ALARA KALAMA DAN UDDAKA RAMAPUTTA (Hindu).
MENGGANTI nama JIWATMAN dengan “NAMA” bukan menyempurnakan kisanak. Ha ha ha ah ah ….. Itu namanya LAGU LAMA JUDUL BARU. ha ha ha ha … Mengganti AVIDYA menjadi AVIJJA bukan memyempurnakan namun LAGU LAM<A judul BARU. ha ha ha ha …
Handy Prazt: BGMANA MENGENAL 4 UNSUR BATIN …. ? Haihai melhat seorang gadis cantik yg sangat BAHENOL ….. MELIHAT= WINNYANA, RASA SENANG= WEDANA TERPESONA INGIN MENJADIKANNYA ISTRI/GUNDIK= SANGKHARA, MEMBAYANGKANNYA JADI ISTRI ATAU MENCUMBUNYA = SANNYA. Haihai dicaci maki temannya ……. mendengar kata caci maki= winnyana … perasaan marah = wedana … membalas mencaci maki = sangkhara …. ingat kondisi lain ketika dicaci/ mencaci = sannya
MELIHAT= WINNYANA
RASA SENANG= WEDANA
TERPESONA INGIN MENJADIKANNYA ISTRI/GUNDIK= SANGKHARA
MEMBAYANGKANNYA JADI ISTRI ATAU MENCUMBUNYA = SANNYA
mendengar kata caci maki= winnyana
… perasaan marah = wedana
… membalas mencaci maki = sangkhara
…. ingat kondisi lain ketika dicaci/ mencaci = sannya
Jadi BENTUK2 PIKIRAN (SANGKHARA) itu apa?
INGATAN (SANNYA) itu apa?
PERASAAN (WEDANA) apa?
KESADARAN (WINNYANA) itu apa?
Kisanak, belajar lagi dech yang benar baru kembali lagi untuk komentar. ha ha ha ha ha ha ha ….. Anda tahu kesalahan anda? ha ha ha ha ha ha ha …… Bahasa Indonesia TIDAK kalah dengan bahasa PALI. JADILAH orang KAMPUNG yang memahami segala sesuatu dengan LOGIS ban ILMIAH bukannya MENAFSIRKANNYA nggak karu-karuan. ha ha ha ha …
@Kurniawan, tahukah anda bahwa HANYA orang HINA DINA yang bisa DIHINA. Ketika seseorang diteriaki, “CINA LU!” hanya orang-orang yang MERASA menjadi CINA itu HINA DiNA yang akan MARAH. Mereka yang BANGGA sebagai orang CINA seperti hai hai tidak akan merasa TERHINA. Ketika diteriaki “ORANG KAMPUNG LU!” hanya orang-orang yang MERASA jadi orang KAMPUNG itu HINA DINA yang merasa DIHINA. Mereka yang seperti hai hai, bangga sebagai orang KAMPUNG justru mengagul-agulkan dirinya orang DESA.
Anda pasti YAKIN agama buddha itu memang HINA DINA, itu sebabnya MERASA DIHINA oleh hai hai dalam blog ini. Ha ha ha ha ha ha … Kisanak, kalau boleh TAHU, bagian mana dari tulisan hai hai yang MENGHINA agama Buddha ya? Ha ha ha ha ….. bila anda sebutkan, saya akan menjelaskan dech kepada anda. BIAR anda nggak MERASA itu ajaran HINA DINA lagi. ha ha ha ha …
@Tomy Wijaya, hai hai hanya MENGuNGKAPKAN kebenaran. mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat bila orang-orang HINA DINA seperti anda merasa TERHINA. Mohon maaf bila orang JELEK seperti anda MERASA JELEK karena hai hai mengungkapkan FAKTA. ha ha ha ha …
kalau yang punya Yesus …ya kepastian …. bukan smeoga kawan
memang nama ku indah …kalau tulisan buruk maafkan …. tetapi itulah pepatah satu jari menunjuk yang empat akan menghunusmu dengan perkataan mu .
@Yosaphat, Anda begitu berbahagia mengoceh di blog umum, mengatakan Theravada tidak bertuhan, lalu akan mengarahkan orang2 sam kauw jadi domba … hehehe … baca artikel ini ya … muslim saja bisa katakan theravada punya Tuhan ….. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=335052223257589&set=at.330781003684711.72763.100002584428484.1030248420&type=1&theater