
Gambar: chanelduniareptil.blogspot.com
EHIPASSIKO! Artinya datang dan lihat sendiri. Benar. Datang dan lihatlah sendiri bahwa meskipun kebanyakan buddhis mengagul-agulkan dirinya LOGIS dan ILMIAH namun faktanya tidak lebih dari tukang kecap belaka.
Meskipun gembar-gembor ajarannya telah TERUJI dan terbukti LOGIS dan ILMIAH namun kebanyakan justru dongeng belaka. Tanyakan kepada sepuluh maka seratus Buddhis akan menjawab, “Tumimbal lahir mustahil reinkarnasi sebab tumimbal lahir adalah ajaran Budha yang logis dan ilmiah sedangkan reinkarnasi adalah ajaran Hindu yang tidak logis apalagi ilmiah.” Dari mana para Buddhis tahu tumimbal lahir MUSTAHIL reinkarnasi? Apakah mereka EHIPASSIKO? Apakah mereka melakukan PENGUJIAN? Mustahil! Mustahil ehipassiko bila tidak tahu bahwa tumimbal lahir (Buddha) dan reinkarnasi (Hindu) diterjemahkan dari kata Pali yang sama yaitu: Punabbhava (lafal: punabawa). Tanyakan kepada seratus maka seribu Budhis akan menjawab, “doktrin tumimbal lahir Agama Budha benar-benar LOGIS dan ILMIAH.” Kerabatku sekalian, mari ehipassiko (datang dan lihat sendiri) untuk membuktikan bahwa doktrin tumimbal lahir selain tidak logis dan ilmiah juga menyangkal ajaran Buddha lainnya.
Memberanikan diri bertanya, di dalam buku berjudul: Kajian Tematis Agama Buddha & Agama Kristen, Djoko Mulyono, Petrus Santoso dan Kristiyanto Liman menulis:
Kehendak, O Biku, adalah karma yang Aku katakan! Setelah memunculkan kehendak, seseorang menciptakan karma melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Nibbedhika-sutta
Sesuai dengan benih yang ditabur
Maka itulah buah yang akan dipetik
Pelaku kebajikan akan menuai kebajikan
Pelaku kejahatan akan menuai kejahatan
Taburlah benihnya dan tanamlah dengan baik
Engkau akan menikmati buahnya. Samyutta Nikaya I:227
Para makhluk adalah pemilik karmanya sendiri, pewaris karmanya sendiri, memiliki karma sebagai penyebab kelahiran kembali, sebagai sanak karma, dan terlindung oleh karmanya sendiri. Karma yang membedakan makhluk yang memiliki keadaan hina dan mulia. Majjhima Nikaya III:203
Agama Buddha percaya bahwa makhluk terlahir kembali di salah satu dari enam alam kehidupan: surga, asura, manusia, binatang, hantu, dan neraka. Kata kunci pengertian kelahiran kembali adalah “muncul kembali”, tidak serupa dengan konsep reinkarnasi Hindu yang mempercayai adanya suatu roh kekal yang bertransmigrasi (meninggalkan tubuh lama dan memasuki tubuh baru). Manusia bisa naik ke alam yang lebih tinggi seperti surga atau turun ke alam yang lebih rendah seperti menjadi binatang atau hantu. Seperti halnya listrik dapat termanifestasi dalam bentuk cahaya, panas, gerakan, demikian pula energi karma dapat termanifestasi dalam bentuk dewa, manusia, binatang, atau makhluk lainnya, di mana satu bentuk tak ada kaitan fisik dengan yang lain. Daripada mengatakan bahwa manusia menjadi binatang, lebih tepat mengatakan bahwa energi karma yang termanifestasi dalam wujud manusia dapat termanifestasi dalam bentuk binatang.
Bengcu Menggugat:
ketika itulah TUHAN Allah membentuk (yatsar) manusia itu dari debu tanah (aphar admah) dan menghembuskan nafas hidup (nashamah chay) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (nephes chay). Kejadian 2:7
Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah (banah) seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22
Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28
Karena kami tahu, bahwa jika kemah (skenos) tempat kediaman (oikia) kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman (oikodome) di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman (oikia) yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Korintus 5:1
Kerabatku sekalian, kisah penciptaan yang tercatat di dalam Alkitab sangat tegas dan gamblang sehingga mustahil menyangkalnya. Ada TIGA jenis manusia. Manusia jenis pertama tubuhnya DIBENTUK dari debu tanah dan jiwanya DILAHIRKAN dari TUHAN Allah. DILAHIRKAN TUHAN Allah artinya KELUAR dari TUHAN Allah. Manusia jenis kedua namanya lelaki dan perempuan. Yang disebut perempuan DIBANGUN dari tulang rusuk dan daging LELAKI. Dalam bahasa modern namanya KLONING. Yang disebut lelaki adalah manusia JENIS pertama yang diambil rusuk dan dagingnya untuk membangun perempuan. Manusia jenis ketiga dibangun dari sperma lelaki dan telur wanita. Setelah dikandung selama sembilan bulan sepuluh hari oleh wanita lalu dilahirkan. Tubuh manusia yang dibentuk dari debu tanah adalah kemah alias cangkang yang akan aus dan mati. Namun setelah tubuhnya mati, jiwa manusia akan mengenakan cangkang baru yang kekal sifatnya.
Agama Hindu mengajarkan bahwa pada mulanya adalah ATMA atau BRAHMAN atau Shang Hyang Widhi Wisesa alias Yang Mulia Mahaesa Yang Mahamula. Atma lalu menjadikan manusia. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwatman. Jiwatman adalah Atma yang lahir dari Brahman dan tinggal di dalam CANGKANG atau tubuh. Ketika tubuhnya mati, Jiwatman pun dilahirkan kembali (Punabbhava) dalam cangkang atau tubuh baru. Dalam tubuh seperti apakah jiwatman dilahirkan kembali? Tergantung KARMA alias perilakunya alias karya baktinya ketika hidup.
Kesamaan ajaran Kristen dan Hindu tentang manusia adalah keduanya mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa alias jasmani dan rohani alias roh dan daging. Perbedaannya adalah Agama Kristen mengajarkan bahwa makluk hidup beranak cucu alias berkembang biak alias MENCIPTAKAN makluk sejenisnya. Itu sebabnya jumlah makluk hidup semakin banyak dari generasi ke generasi. Agama Hindu melalui doktrin reinkarnasinya mengajarkan bahwa jumlah TOTAL makluk hidup tetap namun jumlah makluk menurut wujudnya atau jenisnya berubah-ubah karena KARMA. Doktrin reinkarnasi juga menyangkal ajaran BERKEMBANG BIAK alias BERANAKCUCU alias BERTAMBAH BANYAK.
Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.
Meskipun meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat buddhis juga meyakini tumimbal lahir (Punabbhava) alias reinkarnasi alias dilahirkan kembali (Re birth). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali mustahil jiwatman (jiwa). Ketika ditanya APA yang dilahirkan kembali? Umat Buddha pun berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menceritakan PROSES kematian. Mereka bilang, ketika menghadapi kematian, seseorang akan MENGENANG (Bhavanga) perilakunya selama hidup lalu MENYADARI kematiannya sedang terjadi (cuti citta). Ketika kesadaran kematiannya (cuti citta) PADAM maka muncullah kesadaran penerusan alias kesadaran untuk melanjutkan hidup alias kesadaran untuk dilahirkan kembali (Patisandhi Vinnana – Patisandhi citta). Setelah mati maka orang itu pun dilahirkan kembali menjadi makluk sesuai dengan KARMA-nya.
Apa yang dilahirkan kembali? Yang dilahirkan kembali bukan JIWA. Lalu apa yang dilahirkan kembali? Kembali para buddhis berlagak pilon. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka justru menjelaskan apa ituu tumimbal lahir dengan berkata, “Tumimbal lahir itu ibarat api lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Api dan lilin yang digunakan untuk menyalakan tidak berpindah. Itu sebabnya tetap menyala. Lilin yang dinyalakan menyala karena kondisi memungkinkannya menyala, bukan karena mendapat warisan api dari lilin yang digunakan untuk menyalakannya.”
Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.
LAGU lama JUDUL baru. Itulah yang terjadi. Judul lamanya REINKARNASI. Judul barunya adalah TUMIMBAL LAHIR. Namun lagunya tetap sama yaitu setelah MATI maka BAGIAN yang TIDAK BERWUJUD dari makluk pun MENEMPATI cangkang alias tubuh baru alias WUJUD baru. Bagian tak berwujud itu KEKAL sifatnya alias berperibadi dan PENGETAHUANNYA terus berakumulasi. Itu sebabnya diajarkan bahwa Sidharta BERSAKSI bahwa dia MENGINGAT semua WUJUD atau CANGKANG yang pernah DITEMPATINYA. Itulah BUKTI bahwa BAGIAN tidak berwujud Sidharta Gautama sifatnya PRIBADI dan KEKAL alias ADA terus dan TIDAK bercampur dengan PRIBADI orang lain alias UNIK alias the one and only. Sidharta Gautama itu KEKAL dan PRIBADI. Itu sebabnya ketika dilahirkan jadi tokek dan yang lainnya, dia tetap Sidharta Gautama. Bahkan ketika mencapai Nirwana pun dia tetap Sidharta Gautama, bukan Jokowi atau Ahok apalagi Foke. Gamblang dan tegas sekali bukan? Ajaran tumimbal lahir MENYANGKAL doktrin Anicca (tidak kekal) dan Anatta (tidak ada roh – tidak ada pribadi).
Menurut ajaran tumimbal lahir alias reinkarnasi WUJUD nanti ditentukan oleh wujud kini dan Karma (perilaku kini) serta Bhavanga (kenangan) sebelum mati.
Wujud nanti = Wujud kini + Karma + Kenangan
Suatu makluk PASTI dilahirkan kembali menjadi DINOSAURUS bila KARMA dan BHAWANGA (KB) untuk lahir sebagai dinosaurus TERPENUHI. Makluk yang menanggung Karma dan bhawanga lahir kembali sebagai DINOSAURUS mustahil lahir kembali jadi KECOA atau TOKEK apalagi burung bangkai. Namun saat ini DINOSAURUS tidak ada lagi. Dinosaurus sudah MUSNAH! Dinosaurus sudah PUNAH!
Apabila doktrin tumimbal lahir Buddha memang LOGIS dan ILMIAH maka punahnya dinosaurus diakibatkan oleh tidak ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir sebagai dinosaurus. Andaikata doktrin Tumimbal lahir agama Buddha memang LOGIS dan ILMIAH, itu berarti SUATU saat nanti bila ada MAKLUK yang MEMENUHI syarat lahir sebagai dinosaurus maka DINOSAURUS pun akan ada LAGI di bumi ini.
Dinosaurus sudah MUSNAH. Dinosaurus sudah PUNAH. Tidak ada dinosaurus lagi di bumi ini. Bila demikian, saat ada MAKLUK yang memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus, siapa yang akan MELAHIRKAN dia? Mungkinkah UJUG-UJUG muncul bayi dinosaurus dari ENTAH berentah karena ada MAKLUK yang MATI dan memenuhi Karma Bhavanga lahir kembali sebagai dinosaurus? Ha ha ha ha ha ha …….
Apabila doktrin anatta (tidak ada roh; tidak ada pribadi) dan anicca (tidak ada yang kekal) serta tumimbal lahir memang BENAR serta LOGIS dan ILMIAH maka REINKARNASI bisa dijelaskan sebagai berikut:
ES itu anicca (tidak kekal). ES itu anatta (tidak ada rohnya). Ketika DIPANASKAN (Karma) maka ES pun tumimbal lahir alias reinkarnasi menjadi AIR. Ketika AIR dipanaskan (Karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi gas. Dan Ketika AIR didinginkan (karma) maka tumimbal lahirlah dia menjadi ES.
Ketika ES tumimbal lahir menjadi AIR, maka ES itu pun TIDAK ada lagi alias PUNAH alias PADAM. Kenapa tidak ada LAGI? Karena SUDAH tumimbal lahir alias reinkarnasi alias MENJELMA menjadi AIR. Karena SELURUH ES tumimbal lahir menjadi AIR.
Apabila ES dikubur lalu membusuk jadi tanah atau dibakar menjadi debu kemudian ada mata AIR menyemburkan AIR mustahil dikatakan bahwa AIR dari mata AIR tersebut adalah REINKARNASI atau tumimbal lahir dari ES yang mati lalu dikubur dan membusuk jadi tanah atau dibakar jadi debu tersebut. Kenapa demikian? Karena ES yang dikubur itu tumimbal lahir menjadi tanah dan ES yang dibakar itu tumimbal lahir menjadi debu dan baik sebagai TANAH maupun sebagai DEBU, TANAH atau DEBU ES itu masih ada.
Apa yang terjadi ketika si Buddhis MATI? Dia TUMIMBAL lahir sebagai bangkai. Bila dikubur bangkai si Buddhis pelan-pelan tumimbal lahir menjadi menjadi TANAH si Buddhis. Bila dibakar, bangkai si Buddhis tumimbal lahir menjadi DEBU. Bila dibekukan dia tetap BANGKAI. Selama tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih ada MUSTAHIL menyatakan bahwa si Buddhis SUDAH dilahirkan KEMBALI. Hanya orang-orang DUNGU yang percaya DONGENG si Buddhis sudah tumimbal lahir menjadi si UCOK dengan LOGIS dan ILMIAH padahal tanah atau debu atau bangkai si Buddhis masih utuh apa adanya.
Di bawah ini adalah DONGENG yang digunakan oleh kaum Buddhis untuk membuktikan secara LOGIS dan ILMIAH bahwa ajaran REINKARNASI alias TUMIMBAL LAHIR itu memang BENAR.
Gnanatillaka adalah namanya, Ia (wanita) dilahirkan pada 14 Februari 1956 di Kotamale, Sri Lanka (Ceylon). Kasus ini berawal di tahun 1960, Ketika ia berumur 4,5 tahun. Waktu itu ia berkata kepada orang tuanya, “Saya ingin bertemu dengan ayah dan ibu saya” “Kami adalah orang tuamu.” jawab ibunya. “Tidak.” Gnanatillaka bersikeras, “Saya ingin bertemu dengan ibu dan ayah saya yang sesungguhnya. Saya akan memberitahukan kamu dimana mereka tinggal. Tolong antar saya ke sana.”
Gnanatillaka menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana menuju rumah dimana orang tuanya yang sesungguhnya tinggal. Rumah itu terletak dekat penampungan teh di Talawakele, sekitar 30 mil dari tempat tinggalnya sekarang.
Kedua orang tua itu mengabaikan cerita gadis kecilnya yang aneh. Setelah berhari-hari berlalu, Gnanatillaka tetap meminta untuk diantar menemui ibu-ayahnya yang sesungguhnya.
Segera berita itu mulai tersebar. Beberapa professor dari Universitas Ceylon dan Bhikkhu Piyadassi Maha Thera juga mengetahui cerita itu. Mereka memutuskan untuk menelitinya. Mereka mendengarkan Gnanatillaka bercerita ketika ia menjadi seorang bocah laki-laki bernama Tilakaratna. Mereka (para peneliti itu) mencatat semua keterangan. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Gnanatillaka, mereka bersama-sama dengan Gnanatillaka pergi menuju kerumah yang dijelaskan oleh Gnanatillaka.
Gnanatillaka belum pernah mengunjungi rumah itu di kehidupan yang sekarang, dia juga belum pernah mengunjungi daerah lokasi rumah itu. Juga kedua keluarga itu tidak saling kenal satu sama lain dan tidak saling mengetahui kehidupan masing-masing.
Ketika Gnanatillaka dan para peneliti itu memasuki rumah itu, Gnanatillaka memperkenalkan para professor kepada kedua orang tua dirumah itu. “Ini adalah ayah dan ibu saya yang sebenarnya.” Lalu ia juga mengenalkan adik laki-lakinya dan kakak-kakak perempuannya. Gnanatillaka menyebut nama-nama kecil saudara-saudarinya dengan tepat.
Lalu kedua orang tua Gnanatillaka di kehidupan sebelumnya itu diwawancarai. Mereka menjelaskan sifat dan kebiasaan anak laki-laki mereka yang telah meninggal pada 9 November 1954. Ketika Gnanatillaka melihat bekas adik laki-lakinya dalam kehidupan lampau, ia menolak bertemu atau berbicara dengannya. Kemudian orang tua Gnanatillaka di kehidupan lampau menjelaskan bahwa kedua bersaudara itu selalu berkelahi dan bertengkar. Mungkin Gnanatillaka masih menyimpan dendam dari kehidupannya yang lampau ketika dia menjadi seorang anak laki-laki.
Ketika kepala sekolah setempat mendengar cerita tersebut, ia sendiri datang berkunjung. Ketika kepala sekolah memasuki rumah, Gnanatillaka memperkenalkannya sebagai gurunya.
Gnanatillaka juga dapat mengingat pelajaran-pelajaran dan pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya ketika ia menjadi anak laki-laki dikehidupan sebelumnya.
Gnanatillaka juga dapat menunjukkan tempat pemakaman dimana ia dimakamkan di kehidupannya yang terdahulu sebagai seorang anak laki-laki.
Dengan cepat cerita Gnanatillaka tersebar luas. Seorang peneliti spesialis kasus kelahiran kembali, Dr. Ian Stevenson dari Universitas Virginia, terbang dari Amerika ke Ceylon untuk menyelidiki kasus itu. Setelah penyelidikannya, Dr.Ian mengatakan bahwa kasus Gnanatillaka adalah salah satu peristiwa kelahiran kembali yang terbaik, baik segi bukti maupun dari aspek psikologis.
Sebuah buku menarik tentang kasus Gnanatillaka diterbitkan dalam bahasa Sinhala di Ceylon. Buku ini menyajikan foto-foto berserta bukti-bukti dokumentasi yang berhasil dikumpulkan.
Bengcu Menggugat:
Kerabatku sekalian, haruskah kita berakata, “WOW …..” begitu atas dongeng reinkarnasi tersebut di atas? Ha ha ha ha …… katakan saja, “HOAX!” begitu. Ha ha ha ha ha ha ……
Anak lelaki itu meninggal 9 November 1954 sedangkan Gnanatillaka lahir 14 Februari 1956. Jumlah hari antara hari kematian anak lelaki itu dan hari kelahiran Gnanatillaka adalah 462 hari. Rata-rata manusia dikandung selama 280 hari. Itu berarti ada selisih 192 hari. Pertanyaannya adalah selama 192 hari anak lelaki itu alias Gnanatillaka luntang lantung ke mana? Jangan-jangan dia tumimbal lahir sebagai tokek dulu kayak Sidharta Gautama? Pada hari ke 192 dia dipatok burung bangkai lalu tumimbal lahir lagi menjadi Gnanatillaka? Ha ha ha ha ha ha …… LOGIS dan ILMIAH? Ha ha ha ha ha ha … FIKSI ILMIAH lah yao!
Haihai blm paham konsep Buddhism … tetapi dg pongahnya mau jadi pujangga Buddhis, jadilah DODOL BIN DOGOL. Yukk dibuktikan satu per satu …
Haihai: Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.
JAWAB: Gak paham berlagak pintar … ya gini jadinya. Doktrin Buddhis yg ada, malah jadi terjungkir balik ….. hehehe … TIGA CORAK UMUM (anicca= tidak kekal; dukkha= derita, ketidakpuasan ; anatta= tanpa atta/ inti yg kekal) adalah 3 fenomena yg ada di dunia … yg harus bisa dipahami dan di-ehipassiko oleh seorang yg mengaku siswa Buddha. Oleh karenanya dlm meditasi vipassana, perhatian hrs dipusatkan untuk mengawasi fenomena ini, dlm hubungannya dg jasmani dan batin (roh). Pengertian anatta sendiri … hanya sebuah pemahaman bahwa proses hidup hanyalah sebuah perubahan yg berkelanjutan. Poin dari Buddha mengajarkan tidak ada atta yg kekal adalah jika tdp sesuatu yg kekal dlm diri … kita akan bisa menyuruhnya agar tidak tua, tidak sakit, tidak mati. Karena kita dlm kenyataan menjadi tua, mengalami sakit, bisa mati … maka diajarkan konsep anatta. Bgmana KONSEP AWAL KEHIDUPAN menurut Buddha … ? Pengetahuan yg telah ditembus … membawa beliau melihat proses SAMSARA (lingkaran lahir, berkembang, mati … lahir lagi dst) telah dimulai dari permulaan yg tanpa batas. Yg membuat mahluk2 mengalami proses samsara adalah NAFSU SERAKAH, KEBENCIAN DAN PANDANGAN SALAH … serta TANHA (nafsu keinginan). Dg sederhana bisa dijelaskan … sifat jahat dan cita2/mimpi yg blm kesampaian … adalah energi pendorong mahluk2 berputar dlm samsara. Apa yg terjadi setelah manusia mati … ? Bentuk2 pikiran yg mash terpolusi dg serakah, benci dan pandangan salah (ke 3 akar kejahatan ini dlm istilah buddhis disebut AVIJJA) membentuk kesadaran yg berlanjut …. lalu membentuk MAHLUK HIDUP BARU berdasar perbuatannya di dunia.
Mau tahu manusia pertama di bumi serta dari mana asalnya …. silahkan baca di sini ……. dari syair 10 dst …. http://indonesianbuddhistsociety.wordpress.com/2010/01/26/agganna-sutta-kosmologi-buddhis/
Haihai: Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.
JAWAB: Entah dari mana dapat ilham mengumpamakan nyala lilin yg berpindah sbg perumpamaan KELAHIRAN KEMBALI … hehehe … perumpamaan ini adalah berhubungan dengan pelimpahan jasa kebajikan (PATTIDANA). Kelahiran kembali tidak pernah dihubungan dg perumpamaan nyala lilin yg berpindah dari 1 ke yg lainnya. Umat Buddha memahami pattidana adalah 1 perbuatan baik yg hrs terus dikembangkan. Setiap mereka melakukan 1 kebajikan atau 1 perbuatan berjasa … maka setelah kebajikan dilakukan maka dilakukan pelimpahan jasa kebajikan tsb kepada orang tua/ leluhur dan guru2 yg telah meninggal … agar kebahagiaan sbg akibat kebajikan tsb bisa dirasakan oleh leluhur/guru2 tsb. Itu diumpamakan spt nyala lilin yg menghidupkan lilin lainnya … tanpa nyala lilin kita berkurang sedikitpun.
OK sahabat2 pembaca yg budiman …. sekian dulu, saya ada urusan … lain waktu kita kuliti paragraf berikutnya, disamping pertanyaan2 yg lainnya …..
@Hai: Mengemis? Berarti aq salah, si Bantah bukan aliran Shaolin, tp ‘Kai-Pang’ hiihiiii
Sebenarnya aq msh tggu post-nya Bantah, kan dia blng mau post cerita, tp entah cerita, yg pasti FIKSI agama, jd lumayan buat buang suntuk
@Handy Prazt, MAKLUK hidup BERASAL dari MAKLUK HiDUP. Itu namanya ILMIAH dan LOGIS. TUHAN Allah alias SANG PENCIPTA adalah MAKLUK HIDUP. Alkitab mencatat Sang PENCIPTA MENIUPKAN NAFAS HIDUP artinya DIA MENGELUARKAN sesuatu dari DIRI-NYA. NAFAS hidup itulah yang kemudian menjadikan DEBU TANAH itu MAKLUK HIDUP.
Dalam bahasa MODERN, Sang Pencipta menciptakan manusia dari SATU SEL yang lalu DIBENTUK menjadi TUBUH dan NAFAS HIDUP yang merupakan bagian dari DIRI-NYA. Bagaiaman CARA SATU SEL itu DIBENTUK dengan menjadi manusia? TENTU saja bukan diuntel-untel atau DIPAHAT apalagi DIBENGONGIN = SAMATHA atau DIHALUSINASIIN = VIPASSANA. Namun NAFAS hidup itu MENJADIKAN debu tanah itu menjadi makluk hidup yang lalu BERTUMBUH KEMBANG.
Manusia dalam kisah penciptaan Alkitab BERTUMBUH KEMBANG dari SATU SEL yang DIPADUKAN dengan NAFAS HIDUP. LOGIS? tentu saja LOGIS. Ilmiah? TENTU saja ILMIAH karena sesuai dengan pemikiran para ILMUWAN. bahwa MAKLUK HIDUP itu adalah SATU SEL yang LALU MENJADI HIDUP karena SESUATU menjadikannya HIDUP. ha ha ha ha …. umat Kristen TIDAK pernah berteriak mengagul-agulkan kisah penciptaan mereka LOGIS dan ilmiaH karena siapa pun yang berpikiran LOGIS dan paham ILMIAH bisa mengujinya sendiri. Bagaimana dengan UMAT Buddha yang GEMBAR-GEMBOR kisah penciptaan mereka LOGIS dan ILMIAH? ha ha ha ha ha …… Perlukah hai hai MENGUTIP kisah penciptaan agama Buddha lalu MENGUJINYA secara ILMIAH dan LOgis sehingga ketahuan DONGENGNYA? ha ha ha ha ha …..
Kisanak, saya MaKLuM anda MURKA dan KALuT lalu KALAP. Ha ha ha ha ha …. MEMANG RASANYA nggak ENAK SEKALI ajaran AGAMA yagn selama ini kita YAKiNi sebagai kebenaran ternyata TERBUKTI NGACO BELO. Itulah perasaan para Kristen ketika hai hai memberi tahu mreka kesalahan ajaran agama mereka sambil mengajarkan ajaran yang benar. Ha ha ha ha ha ….
EHIPASSIKO artinya DATANG dan LIHAT SENDIRI, makanya adalah UJILAH segala sesuatu dan peganglah yang BAIK. Selama ini anda MENERIAKANNYA sebagai SLOGAN. SEKARANGLAH waktunya bagi anda untuk MULAI MERENUNGKANNYA dan MEMBINA DIRI hidup dengannya. ha ha ha ha …
Haihai: Kerabatku sekalian, menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan api lilin untuk menjelaskan doktrin tumimbal lahir benar-benar dungu! Kenapa demikian? Karena lilin yang digunakan untuk menyalakan lilin lain tidak mati alias PADAM dulu ketika lilin lain menyala sedangkan orang yang tumimbal lahir mati DULU baru dilahirkan kembali. Menyalakan lilin dengan lilin justru menyangkal doktrin tumimbal lahir. Menyalakan lilin dengan lilin cocok untuk menjelaskan BERANAKCUCU alias berkembang biak. Anaknya lahir namun induknya tetap hidup dan ada.
Handy Prazt: Entah dari mana dapat ilham mengumpamakan nyala lilin yg berpindah sbg perumpamaan KELAHIRAN KEMBALI … hehehe … perumpamaan ini adalah berhubungan dengan pelimpahan jasa kebajikan (PATTIDANA). Kelahiran kembali tidak pernah dihubungan dg perumpamaan nyala lilin yg berpindah dari 1 ke yg lainnya.
Kisanak, SELAMAT! Anda orang BUDDHIS pertama yang MENDAPAT PENCERAHAN lalu MENGAKUI bahwa menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan lilin untuk menjelaskan doktrin TUMiMBAL lahir MEMANG benar-benar DUNGU! Saya juga tidak tahu para Buddhis DUNGU itu mendapat ilham dari mana? Ha ha ha ha ha ha ha ….. Karena hai hai sudah MENGAJARI dan anda SUDAH mendapat PENCERAHAN maka TUGAS andalah selanjutnya untuk MENGAJARI para BUDDHIS DuNGu itu agar tidak menggunakan perumpamaan api lilin menyalakan lilin untuk menjelaskan doktrin TUMiMBAL lahir. Ada baiknya anda MULAI dengan mengajari Buddhis bernama dilbert di forum diskusi Buddhiseme Indonesia Online. Juga si Shin Tung di SiNI. Selanjutnya, keliling saja ke group-group BUDDHIS di Face BOOK, untuk MENGUJI benarkah mereka memang DUNGU dan menggunakan perumpaan Api lilin menyalakanlilin untuk MEnejelaskan TUMIMBAL LAHIR dan MENOLAK REINKARNASI? ha ha ha ha ha ha …..
@handy : bisa gak dijelaskan lebih singkat dan mudah dimengerti tentang penciptaan mahluk hidup pd budha, spt Om beng jelaskan diatas ttg penciptaan mahluk hidup pd alkitab . itung itung bisa diterima secara LOGIS dan ILMIAHlah. pengen tahu aja .
Haihai: Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada PRIBADI. Karena tidak ada JIWA yang KEKAL maka manusia itu ibarat api unggun. Ketika api unggun mati, kayunya atau tubuhnya menjadi debu tanah sedangkan apinya PADAM alias TIDAK ada lagi. Melalui doktrin Aanicca anatta Sidharta meyakini TIDAK ada kehidupan setelah MATI.
Handy Prazt: Gak paham berlagak pintar … ya gini jadinya. Doktrin Buddhis yg ada, malah jadi terjungkir balik ….. hehehe … TIGA CORAK UMUM (anicca= tidak kekal; dukkha= derita, ketidakpuasan ; anatta= tanpa atta/ inti yg kekal) adalah 3 fenomena yg ada di dunia … yg harus bisa dipahami dan di-ehipassiko oleh seorang yg mengaku siswa Buddha. Oleh karenanya dlm meditasi vipassana, perhatian hrs dipusatkan untuk mengawasi fenomena ini, dlm hubungannya dg jasmani dan batin (roh). Pengertian anatta sendiri … hanya sebuah pemahaman bahwa proses hidup hanyalah sebuah perubahan yg berkelanjutan. Poin dari Buddha mengajarkan tidak ada atta yg kekal adalah jika tdp sesuatu yg kekal dlm diri … kita akan bisa menyuruhnya agar tidak tua, tidak sakit, tidak mati. Karena kita dlm kenyataan menjadi tua, mengalami sakit, bisa mati … maka diajarkan konsep anatta.
Agama Hindu mengajarkan bahwa manusia adalah dikotomi yaitu:
1. Tubuh
2. Atma – Atta – jiwatman – jiwa – Roh – Nama – Batin
Tubuh bertumbuh kembang lalu menjadi AUS kemudian MATI. TUBUH manusia itu ANICCA = TIDAK KEKAL. Namun JIWA alias JIWATMAN alias ATTA alias ATMA itu sifatnya KEKAL. KEKAL karena TIDAK menjadi TUA lalu AUS kemudian MATI. Yang MATI tidak bisa hidup lagi. Itu sebabnya TUBUH yang mati TIDAK hidup kembali. Yang dianggap MATI lalu hidup kembali adalah yang BELUM benar-benar MATI. Apa yang terjadi ketika TUBUH mati? JIWA alias JIWATMAN alias ATTA alias ATMA mencari TUBUH BARU. KETIKA memasuki TUBUH BARU, ATMA lupa dengan SEGALA KENANGANNYA dalam kehidupan sebelumnya. DENGAN meditasi yang SEMPURNA, seseorang BISA MENGINGAT kembali KISAH hidupnya yang lalu. Manusia tidak selalu LAHIR kembali atau MENDAPAT WADAH atau CANGKANG sebagai manusia. KARMA alias PERILAKU mereka dalam kehidupan sebelumnya akan MENENTUKAN CANGKANG atau WuJud atau WADAH atau TUBUH mreka kemudian. Itulah PUNABHAWA alias REINKARNASI agama Hindu.
Apa yang diajarkan oleh Buddha? Kisanak, bukankah anda SENDIRI yang mengajarkan bahwa Agama Buddha mengajarkan:
KEKAL = tidak menjadi TUA lalu AUS kemudian MATI.
ANICCA = tidak ada yang KEKAL = TIDAK ada yang menjadi TUA lalu AUS kemudian MATI.
Ketika menjadi TUA, seseorang pun menjadi PIKUN dan BODOH. Nampaknya itulah alasan yang digunakan untuk mendirikan DOKTRIN ANICCA. TIDAK ada yang KEKAL. SEMUA pengetahuan dan KENANGAN menjadi TUA lalu AUS kemudian MATI.
JIWATMAN = jiwa = Ketika seseorang mati, JIWANYA tidak mati. JIWA membawa KENANGAN dan pengetahuan.
ANATTA = Tidak ada JIWA.
Itulah yang dikatakan bahwa HIDUP itu seperti API. Setelah PADAM, tidak ada lagi KELANJUTANNYA.
MATI = the END
Itu sebabnya BERKALI-KALI Sidharta GAUTAMA mencela AJARAN agama HINDU untuk MENCARI atau MENGEJAR atau MERAIH KEKEKALAN.
Itu sebabnya tidak diajarkan untuk percaya kepada KARMA namun percaya kepada DHARMA. Kenapa demikian? Karena KARMA = Perilaku sekarang MENENTUKAN kehidupan setelah MATI. Sedangkan DHARMA = KESUSILAAN = TATALAKSANA = HUKUM = ATURAN.
Itulah ajaran SEJATI Sidharta Gautama. Setelah MATI maka PADAM. JANGAN MENGEJAR KEKEKALAN. SIA-SIA. TIDAK ada yang KEKAL. NGGAK tuh ATMA yang dilahirkan kembali.
@Handy Prazt, anda MAU mencoba JURUS baru ya? ha ha ha ha ha ha ….. umumnya para jagoan buddha mengajarkan bahwa ANICCA = TIDAK KEKAL. TIDAK KEKAL bukan tidAK MusNAH, bukan tDIAK BINAsA dan bukan tIDAK PADAM namun TIDAK STATIS alias TIDAK TETAP alias TIDAK KONSTAN. Mereka mengakui bahwa NAMA = ROH = BATiN itu KEKAL alias TIDAK BINASA alias tDIAK PADAM namun BATIN itu ANICCA alias tidak KONSTAN, selalu BERuBAH. Itulah cara mereka menjelaskan kenapa Sidharta Gautama REINKARNASI 500 kali sebelum menjadi Buddha alias mencapai Nirwana.
Anda mau mencoba JURUS baru bahwa doktrin ANICCA ANATTA hanya berlaku SELAMA HIDUP? ANICCA artinya TIDAK KONSTAN alias TIDAK TETAP SAMA? ha ha ha ha ha ha …. K’cian dech lu!
@ yemima, coba anda perhatikan KISAH PENCIPTAAN agama Budha dengan teliti dan hati-hati. Untuk MELAHIRKAN harus ada PERSETUBUHAN lelaki dan WANITA. Kapan LELAKI dan PEREMPuAN TERBENTUK? Ketika mulai makan PADI-PADIAN. Saat itulah baru muncul NAFSU BIRAHI lalu memuncak pada ORGASME. Namun aneh BIN AJAIB. SEBELUM hal itu TERJADI, makluk-maklu SUDAH DILAHiRKAN. ha ha ha ha ha … siapa yang MELAHIRKAN? DONGENG sperti itu disebut LOGIS dan ILMIAH? ha ha ha ha ha ….. TAK U U ya!
@Haihai, Ingin menguliti Buddhism dg benar … ? Bukalah ajaran Buddha yg ada di sutta pitaka dan abhidhamma pitaka, baru keren … hehehe … orang ngaco dg berbagai persepsi didengarkan … ya gini jadinya !!
@Yemima, Buddha menjelaskan mahluk yg ada di bumi pertama kali berasal dari alam surga Abhassara (alam cahaya). Ini surga tingkat 12 dlm doktrin Buddhis. Munculnya pertama kali di bumi berkelompok dg tubuh yg bercahaya … tetapi karena keserakahan dan kesombongan, hidup akhirnya mengalami kemunduran dan penuh kesulitan spt saat ini. Ini saya copykan kondisi awal mula bumi ketika kemunculan kelompok mahluk cahaya pertama ….. (KIsah dg latar pemahaman masyarakat India, kepada siapa sutta ini dibabarkan)
10. Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilamana hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.
Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. Dan ketika hal ini terjadi, mahluk¬mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.
11. Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk¬mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.
Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.
12. Kemudian, Vasettha, di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari jarinya. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan,
musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.
13. Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: “Sayang, lezatnya! Sayang lezatnya!” Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: “Oh lezatnya! Oh lezatnya!; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.
14. Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi¬pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; lama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk¬mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. Mereka
menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka
bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; lama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.
15. Kemudian, Vasettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini; maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada
mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : “Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab : “Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu.”
16. Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.
Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna).
Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin, maka sebagian melempari dengan pasir, sebagian melempari dengan abu, sebagian melempari dengan kotoran sapi, dengan berteriak: “Kurang ajar! Kurang ajar!Bagaimana seseorang dapat berbuat demikian kepada orang lain?” Demikian pula sekarang ini, apabila seorang laki-laki dari tempat lain menjemput mempelai wanita dan membawanya pergi, orang-orang akan melempari mereka dengan pasir, abu atau kotoran sapi; yang sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah mengikuti bentuk¬bentuk masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada perbuatan itu.
Buddhapun menjelaskan manusia terdiri dari RUPA (jasmani) dan NAMA (batin/roh). Karena ketika terjadi kelahiran kembali … manusia tidak bisa mengingat dg sempurna kehidupan lampaunya …. maka Buddha menjelaskan lebih lanjut bahwa NAMA terdiri dari 4 unsur yaitu BENTUK2 PIKIRAN (SANGKHARA), INGATAN (SANNYA), PERASAAN (WEDANA) DAN KESADARAN (WINNYANA). Ketika manusia mengalami proses samsara … maka sdh ada AVIJJA (serakah, benci dan pandangan salah) yg menyebabkannya melakukan perbuatan yg akan berakibat (karma). AVIJJA adalah awal mula menusia mengalami samsara. Dlm proses samsara …. maka akan selalu terdapat AVIJJA LAMPAU dan BENTUK2 PIKIRAN (KARMA) LAMPAU yg lalu berproses menjadi mahluk baru yg juga mengandung RUPA (JASMANI BARU) SERTA NAMA (ROH) yg juga terdiri dari 4 unsur yaitu sankhara lampau, ingatan, perasaan dan kesadaran.
Membaca tanggapan Ko Haihai ini …. saya lhat anda benar2 SINIS thd Buddha. Saya sudah lumayan banyak membaca Sutta, tidak pernah sekalipun saya membaca ajaran Buddha yg mengajarkan “JANGAN PERCAYA KARMA”. kARMA DAN KELAHIRAN KEMBALI … ADALAH DOKTRIN UTAMA BUDDHISM. Kalau berkenan,saya akan copy-kan semua sutta ttg Karma di sini … lalu suruh ko Hai tunjukkan sutta yg mengajarkan jangan percaya karma.
Demikian pula pernyataan Buddha mencela ajaran Hindu … yg tersirat hanyalah menentang adanya kasta yg membedakan mahluk berdasar keturunan/kelahiran; serta budaya pemujaan api dg mempersembahkan kurban. Kalau ttg HUkum Karma dan kelahiran kembali … TIDAK TERDAPAT KATA CELAAN.
Haihai: Itu sebabnya tidak diajarkan untuk percaya kepada KARMA namun percaya kepada DHARMA. Kenapa demikian? Karena KARMA = Perilaku sekarang MENENTUKAN kehidupan setelah MATI. Sedangkan DHARMA = KESUSILAAN = TATALAKSANA = HUKUM = ATURAN.
Itulah ajaran SEJATI Sidharta Gautama. Setelah MATI maka PADAM. JANGAN MENGEJAR KEKEKALAN. SIA-SIA. TIDAK ada yang KEKAL. NGGAK tuh ATMA yang dilahirkan kembali.
@HAIHAI, Saya tidak paham statement anda ttg KARMA DAN DHARMA. Begitu pula ajaran sejati setelah mati, maka padam. tidak ada yg KEKAL … hehehe … benar2 bikin bingung dan pusing. JUSTRU PUNCAK AJARAN BUDDHA ADALAH KEKEKALAN. NIBBANA = KEBAHAGIAAN TERTINGGI BISA DIRAIH ADALAH KETIKA ANDA BISA MENGATASI KEBERADAAN. Selama msh dlm konsep keberadaan … maka anda akaN selalu berpusar dlm samsara, proses lahir lalu mati .. lahir lagi, mati lagi …. yg merupakan DERITA/KETIDAKPUASAN. Saat sdh menapak PUNCAK AJARAN … maka tidak ada lagi kelahiran … MAKA INI ADALAH KEKEKALAN.