Iman Di Mata Seorang Tionghoa Kristen


Umat Kristen menyebut dirinya orang BERIMAN. Mereka ahli sekali membuat definisi IMAN. Ketika ditanya, “Apa itu iman?” dengan senang hati mereka akan memberitahu anda definisi-definisi iman yang diketahuinya dan nggak segan-segan menambahkan definisi-definisi baru bagi anda. Saking ahlinya membuat definisi IMAN dan saking banyaknya definisi iman yang mereka tahu, akhirnya orang Kristen pun bingung sendiri ketika ditanya, “Apa itu iman?” Aneh bin ajaib. Menyebut diri orang BERIMAN dan ahli sekali membuat DEFINISI iman namun sama sekali tidak memahami apa itu IMAN? Itulah orang Kristen. Itu sebabnya mereka murah hati sekali menuduh anda tidak beriman sehingga mustahil mengerti apa itu iman?

Glenn Manengkey:  Menurut saya, akal budi adalah bagian tertentu dari iman. Saya adalah pribadi yang tidak dapat dipuaskan hanya atas kemampuan nalar akal budi saja. Karena itu saya memahami iman sebagai bagian yang lebih penting. Mungkin penilaian orang terhadap saya akan tidak selaras dengan pandangan akal budi mereka. Saya memaklumi mereka, karena memang saya dan mereka adalah pribadi yang masing-masing memiliki format nalar akal budi yang berbeda. Perbedaan hanya mungkin bertemu dalam konflik.

Glenn Manengkey: Menurut saya, iman = amin = mengakui sesuatu tidak hanya melulu dengan akal budi versi anda yang rasionalism. Anda adalah dukun logika, Akan sulit memahami IMAN. Konsep akal budi anda dan saya jelas berbada. Ingat, perbedaan hanya mungkin bertemu dalam konflik.

Glenn Manengkey:  iman menurut saya adalah pengalaman rasa, nalar, kehendak/keinginan, harapan/dambaan yang didapat melalui pengalaman pribadi yang teralami ataupun tidak, yang teraih ataupun sebatas angan, ada dan tiada, dst. PASTINYA, PENGALAMAN MENGERTI DARI YANG TERALAMI NYATA ATAUPUN TIDAK NYATA, dalam hubungan dengan yang transenden, yang agung, mulia dari apa yang dapat dimengerti dirasakan melalui pengalaman pernyataan dan penyataan dan ketidaknyataan yang menakjubkan dari DIA.

Glenn Manengkey:  Mistik dari kaca mata logika = tahyul. Mistik dari kaca mata keyakinan = realita. Iman adalah wujud dari hasil kajian nalar akal budi dan realita dari suatu keyakinan. Jadi orang beriman adalah pribadi yang berada di antara kesediaan menerima kenyataan dari keduanya. Mungkin? Mohon pencerahan.

Pdt. Dr Stephen Tong: Iman adalah pengembalian rasio kepada kebenaran. Iman, Rasio dan Kebenaran, hal 29

Pdt. Dr Stephen Tong: Iman adalah fondasi yang diletakkan oleh Kristus, Sang Pemulai dan Penyempurna iman kita, oleh karena itu seluruh aspek iman Kristen berpusat kepada Kristus. Prinsip dari iman kepada iman berarti bagi seseorang untuk dapat beriman, dasarnya adalah iman, dan justru iman itu yang kemudian akan membawa kita kepada penglihatan, pengalaman, pengertian, dan bukti, bukan sebaliknya.  Dari Iman kepada Iman, bab I

Iman Adalah Perasaan Nyaman Meyakini Sesuatu

Iman (pistis) adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan (elpizo) dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Ibrani 11:1-2

Ketika mendengar berita kesebelasan Barcelona (Barca) akan bertanding melawan kesebelasan Manchester United (MU), anda UJUG-UJUG merasa MU akan memenangkan pertandingan. Ketika seseorang memaparkan analisanya dan menyimpulkan Barca akan menang, anda menyetujui analisanya namun tetap merasa nyaman meyakini MU yang menang. Aneh bin ajaib! Anda menonton pertandingannya dan ketika pertandingan berakhir dan Barca menang, anda tetap merasa nyaman meyakini MU menang. Anda belum melihat pertandingannya namun sudah yakin MU menang. Anda meyakininya seolah sudah melihat buktinya. Bahkan ketika melihat MU kalah pun, bukti MU menang tetap ada dalam perasaan anda. Itu sebabnya anda tetap merasa nyaman meyakini MU menang. Apa yang anda rasakan itulah yang disebut IMAN. Apa itu IMAN? IMAN adalah PERASAAN NYAMAN meyakini SESUATU.

Karena merasa nyaman meyakini (beriman) MU menang maka anda pun BERHARAP MU menang. Itu sebabnya dikatakan IMAN adalah DASAR dari segala yang DIHARAPKAN. Namun kemudian teman anda datang dan memaparkan analisa yang menyimpulkan MU kalah. Karena mempercayai analisanya, maka anda pun melepas HARAPAN agar MU menang lalu bertaruh MU kalah dan Barca menang. Anda BERHARAP agar MU kalah supaya anda menang taruhan namun HARAPAN anda sama sekali tidak menghilangkan perasaan nyaman meyakini MU menang yang ada di dalam hati anda. Itu sebabnya dikatakan bahwa IMAN  bukan HARAPAN. Apa yang terjadi ketika MU kalah? Anda gembira karena menang taruhan namun sama sekali tidak merasa nyaman sebab MU kalah. HARAPAN anda terkabul, yang anda IMANI tidak terjadi namun IMAN anda bahwa MU menang sama sekali tidak hilang.

Suatu hari saya melihat seorang gadis dan begitu saja meyakini bahwa kami akan menjadi kekasih yang bahagia. Itulah yang disebut cinta pada pandangan pertama. Itulah yang disebut kasmaran. Karena merasa nyaman meyakini kami pasangan kekasih maka saya pun berharap kami menjadi kekasih. Sayang sekali. Ketika berusaha memikatnya ternyata gadis itu mencintai lelaki lain. Saya kecewa, sedih, sebal, minder, marah bahkan membencinya. Namun herannya, perasaan nyaman meyakini kami adalah sepasang kekasih yang bahagia, sama sekali tidak hilang dari hati saya. Apa yang saya rasakan itulah yang disebut IMAN. Apa itu IMAN? IMAN adalah PERASAAN NYAMAN meyakini SESUATU.

Suatu hari ketika diajak nonton oleh teman-teman, di bioskop kami bertemu dengan seorang gadis teman mereka. Sebut saja namanya Ponijem (bukan nama sebenarnya). Ketika melihat Ponijem, begitu saja saya merasa yakin bahwa hubungan kami akan panjang. Saya merasa nyaman meyakini hubungan kami akan panjang. Di dalam benak, saya punya seorang gadis impian. Baik penampilan fisik, pendidikan, hoby dan karakter, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Ponijem jauh panggang dari api. Kalaupun harus mengendurkan syarat maka, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, masih banyak gadis lain yang nilainya di atas Ponijem yang siap menjadi kekasih saya kapan saja saya menghendakinya. Saya pun BERHARAP tidak pernah berhubungan dengan si Ponijem lagi dan berusaha menjauhinya dan melupakannya. Namun apa pun harapan saya dan apa pun yang saya lakukan, perasaan nyaman meyakini hubungan kami akan panjang tetap bertahan  di dalam hati saya. Apa yang saya rasakan itulah yang disebut IMAN. Apa itu IMAN? IMAN adalah PERASAAN NYAMAN meyakini SESUATU.

Sejak kelas dua SD saya sudah sekolah minggu dan membaca Alkitab serta buku-buku Kristen bahkan ikut kursus Alkitab tertulis walaupun saat itu saya menganut agama lain. Sekolah minggu seru karena banyak ceritanya. Buku-buku Kristen mengasykkan karena banyak ceritanya yang seru. Alkitab mengasykkan karena banyak ceritanya. Kursus Alkitab tertulis seru karena bila lulus, selain dapat ijazah juga dapat buku cerita.

Saat itu awal tahun 1981. Seorang teman mengundang saya ikut KKR yang diselenggarakan oleh Persekutuan Siswa Kristen Yogyakarta (PSKY). Setelah bercerita tentang Ayub, pengkotbah menantang siapa saja yang mau menjadi orang Kristen, maju ke depan. Pada saat itu saya merasa nyaman meyakini Kristen adalah jalan hidup saya. Ketika para pembina yang adalah para anggota PERKANTAS mengajari saya bahwa di dalam Kekristenan tidak ada kata semoga dan Roh kudus akan mengubah saya menjadi orang saleh maka saya pun BERHARAP agar Roh Kudus mengubah saya menjadi orang saleh. Ketika menemukan banyak sekali kata SEMOGA di dalam Alkitab dan saya sama sekali tidak berubah menjadi saleh setelah berdoa mengundang Yesus masuk ke dalam hati saya dan menjadi raja di sana, maka saya pun tahu bahwa saya telah ditipu. Sejak itu saya berjanji pada diri sendiri, “Nggak boleh tertipu lagi oleh orang Kristen.” Sejak itulah saya selalu menguji bila seseorang bilang Alkitab mengajarkan A atau B. Walaupun HARAPAN ujug-ujug menjadi orang saleh sirna namun perasaan nyaman meyakini Kristen adalah jalan hidup saya, sama sekali tidak pernah hilang. Itu sebabnya saya tetap menjadi orang Kristen sampai hari ini. Apa yang saya rasakan itulah yang disebut IMAN. Apa itu IMAN? IMAN adalah PERASAAN NYAMAN meyakini SESUATU.

IMAN bukan HARAPAN.  IMAN dan HARAPAN adalah dua hal yang berbeda. IMAN dan HARAPAN bisa berlawanan.

I Still Believe In You

Tahun 1994, saat itu Iis (ini istriku) masih menjadi pacarku. Dia menyukai lagu itu dan meminjamkan kasetnya kepadaku. Aku nggak pernah mengembalikan kaset itu kepadanya. Kaset itu masih ada padaku saat ini.

Aku tahu dia sering menyanyikannya, terutama ketika aku menjadi orang paling menyebalkan di dunia dalam hidupnya. tidak mendengar suaranya namun itu nyata dalam pandangannya. Suara yang tak terdengar telinga itulah yang selalu membawaku kembali kepadanya. Itulah cara dia mememanggilku pulang ke rumah.

Suatu hari seorang teman bertanya, “Apa yang membuatmu selalu pulang ke rumah?” Saat itu saya menatapnya, tersenyum lalu berkata:

“Dia selalu menyanyikannya, ‘I still believe in you and me!’ itu sebabnya saya selalu kembali kepadanya. Saya tidak pernah menyesali hal itu, saya suka lagunya, untuk sebuah kata yang lebih baik, saya suka IMANNYA.”

Saya lalu bertanya, kepada teman itu, “Kamu tahu apa yang saya bayangkan setiap kali lagu itu menggema di kepalaku?” Teman itu menggeleng lalu minta aku menjelaskannya.

“Saya NGGAK membayangkan apapun, hanya mendengar suaranya berkata, ‘I still believe in you and me! Itu sebabnya saya pulang. Saya ingin menatapnya, saya ingin MEMASTIKAN bahwa dia memang menyanyikannya, ‘I still believe in you and me!’ Dia bukan hanya menyanyikannya, namun dia menghidupinya”

I still believe in you

Everybody wants a little piece of my time
But still i put you at the end of the line
How it breaks my heart to cause you this pain
To see the tears you cry fallin’ like a rain
Give me the chance to prove
And i’ll make it up to you

I still believe in you
With a love that will always be
Standing so strong and true
Baby i still believe in you and me

Somewhere along the way, i guess i just lost track
Only thinkin’ of myself never lookin’ back
For all the times i’ve hurt you, i apologize
I’m sorry it took so long to finally realize

Give me the chance to prove
That nothing’s worth losing you

I still believe in you
With a love that will always be
Standing so strong and true
Baby i still believe in you and me

Teman itu menatapku tajam lalu berkata, “Ceritakan tentang Iis (ini istriku) kepadaku!”

Aku menatapnya, menggigit bibir, menahan rasa lalu berkata TEGAS dan GAMBLANG, “She still believe in me and her, With a love that will always be! Fucking stupid women, but i do love her! MUCH. Very much. May be to much. But i don’t care! I DO LOVE HER!”

Hanya sebuah lagu, namun itu lagu kami. Itu lagunya. Itu laguku! Lagu! Sebuah lagu!

Kerabatku sekalian, itulah catatan saya tentang hai hai dan Iis dan lagu I Still Believe In You. Sejak pacaran, Iis merasa nyaman meyakini “I still believe in you and me with a love that will always be”. Apa yang Iis rasakan itu namanya IMAN. Imannya membangkitkan HARAPAN-nya. Dia pun berusaha mewujudkannya, namun tidak selalu berjalan mulus. Seringkali harapannya atas hai hai dan hubungan kami hancur lebur berantakan. Dia kecewa, sedih, sebal, minder, marah bahkan hampir putus asa. Namun, aneh bin ajaib! Perasaan nyaman meyakini “I still believe in you and me with a love that will always be” sama sekali tidak pernah hilang dari hatinya. Imannya tetap di sana. Tak terluka sama sekali. Itu sebabnya Iis pun mulai berharap lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Sanakku sekalian, melihat Iis demikian, hati saya pun penuh dengan BELAS KASIHAN. Belas kasihan memicu keinginan untuk membantu Iis mewujudkan harapan dan imannya.

Iman Iis membangkitkan belas kasihan hai hai. Belas kasihan hai hai memacu hai hai membantu Iis mewujudkan imannya. Itulah yang disebut. Iis punya IMAN. Hai hai mencari CARA. Setiap kali gagal, mulai lagi. Hari lepas hari melakukannya lagi dan lagi. Iman tidak pernah hilang namun bagaimana dengan harapan? Jangan menghitung. Jangan menghitung kesalahan. Apabila suami istri BERHITUNG lalu saling MENGHITUNG maka cepat atau lambat keduanya akan membuat PERHITUNGAN. Mustahil tidak menghitung. Karena Harapannya terus menerus KANDAS akhirnya bosan berharap bahkan KAPOK berharap lagi. Hitunglah KEGAGALAN anda untuk memecahkan rekor orang paling GETOL mencoba. Harapan kandas? Berharap lagi! Gagal lagi? Bukan masalah! Coba lagi! Namanya juga usaha!

Sejak lulus SD, saya hidup sendiri jauh dari orang tua, tanpa pengawasan wali sama sekali. Banyak orang bertanya, “Kenapa tetap menjadi anak baik? Kenapa nggak ikutan brengsek?” Karena saya tahu di dalam setiap doa mama saya, nama saya disebut. Dan di dalam setiap kerja kerasnya dia melakukannya agar saya tidak perlu melakukannya. Mama saya beriman bahwa saya adalah anak baik. Melihat IMAN mama saya maka hati saya pun penuh dengan BELAS KASIHAN kepadanya. Perasaan belas kasihan itu menggerakkan saya untuk menggenapi IMAN-nya. Itulah yang mencegah saya menjadi remaja brengsek dan pemuda jahat dan membimbing saya berusaha membina diri menjadi orang saleh.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas  kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Matius 9:36

Apa yang saya alami ketika melihat IMAN Iis dan Mama, itulah yang dialami oleh Yesus ketika melihat IMAN orang banyak yang mengikuti-Nya dan itu pulalah yang dialami oleh Bapa di sorga ketika melihat IMAN umat manusia dari generasi ke generasi. BELAS KASIHAN.

BELAS KASIHAN bukan KASIHAN. Ketika melihat seorang lelaki digebukin, anda merasa KASIHAN kepadanya. Pikiran anda pun penuh dengan pertanyaan Kenapa dia dikeroyok? Apa salahnya sehingga dia dikeroyok? Ketika melihat anak kecil digampar, anda pun menaruh BELAS KASIHAN kepadanya. Entah kenapa, anda merasakan rasa sakit akibat gamparan itu di hati anda. Anda tidak akan bertanya kenapa dia digampar bahkan anda tidak peduli dia digampar karena nakal, namun anda langsung menyalahkan orang yang menggamparnya. Ketika melihat seorang dewasa tersandung lalu jatuh dan babak belur, anda merasa KASIHAN kepadanya. Anda pun lalu menyalahkannya karena tidak hati-hati. Ketika melihat seorang anak berumur 1-2 tahun berjalan ceria lalu tersandung dan jatuh, anda pun ber-BELAS KASIHAN kepadanya. Aneh bin ajaib! Melihat anak itu jatuh, anda bukan hanya merasa jatuh bersamanya namun juga merasa bersalah karena dia jatuh. Begitu saja perasaan itu muncul. Anda ingin mendekapnya dan menghiburnya serta memberitahu dia bahwa jatuh bukan masalah. Perasaan demikianlah yang disebut BELAS KASIHAN.

Iman Sebesar Biji Sesawi

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman  sebesar biji  sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Matius 17:20

Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17:6

Sanak saudaraku sekalian, IMAN sama sekali tidak BERKUASA. Iman sebesar biji sesawi sama sekali tidak BERKUASA untuk memindahkan GUNUNG ITU (dari mana Yesus dan Petrus dan Yakobus dan Yohanes baru saja turun) ke sana. Atau menyuruh GUNUNG ITU (dari mana Yesus dan Petrus dan Yakobus dan Yohanes baru saja turun) pindah ke sana. Namun, dengan iman sebesar biji sesawi murid-murid bisa berkata kepada GUNUNG INI (Yesus), “Pindahlah dari SINI ke sana.” Kenapa GUNUNG INI (Yesus) mau pindah menuruti kehendak murid-murid? Karena BELAS KASIHAN. Iman sebesar biji sesawi sama sekali tidak BERKUASA untuk mencampakkan POHON ARA ITU (di mana si Paijo berteduh) ke laut. Atau menyuruh POHON ARA ITU (di mana si Paijo berteduh) tercerabut lalu tertanam di laut. Namun, dengan iman sebesar biji sesawi murid-murid bisa berkata kepada POHON ARA INI (Yesus), “Tercerabutlah lalu tertanamlah di laut.” Kenapa demikian? Karena BELAS KASIHAN.

Imanmu telah menyelamatkanmu! Artinya Imanmu menggerakkan BELAS KASIHAN BAPA-Ku, itu sebabnya Bapa-Ku Menyelamatkanmu MELALUI Aku seperti yang kau IMANI. Itu sebabnya dikatakan: Imanmu telah menyelamatkanmu. Itu sebabnya tercatat: Aku hanya melakukan kehendak Bapa-Ku. Itulah yang terjadi setiap kali Yesus melakukan Mujizat. BELAS KASIHAN. Bukan KUASA IMAN.

Handaiku sekalian, IMAN membangkitkan harapan namun iman bukan HARAPAN. Iman bukan NGOTOT pada apa maumu. IMAN adalah perasaan nyaman meyakini sesuatu yang MUNCUL begitu SAJA. IMAN bukan segala-galanya karena IMAN hanya DASAR alias PERMULAANNYA saja. Itu sebabnya Petrus menulis:

Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 2 Petrus 1:3

Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. 2 Petrus 1:4

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 2 Petrus 1:5

dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 2 Petrus 1:6

dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 2 Petrus 1:7

Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. 2 Petrus 1:8

Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. 2 Petrus 1:9

Kaumku sekalian, anda punya IMAN? Bagus! Tambahkan KEBAJIKAN atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN? Bagus! Tambahkan PENGETAHUAN atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN? Bagus! Tambahkan PENGUASAAN DIRI atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN dan PENGUASAAN DIRI? Bagus. Tambahkan KETEKUNAN atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN dan PENGUASAAN DIRI dan KETEKUNAN? Bagus! Tambahkan KESALEHAN atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN dan PENGUASAAN DIRI dan KETEKUNAN dan KESALEHAN? Bagus! Tambahkan CINTA ke atasnya.

Anda punya IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN dan PENGUASAAN DIRI dan KETEKUNAN dan KESALEHAN dan CINTA? Bagus! Tambahkan PERIKEMANUSIAAN ke atasnya.

Sekarang anda punya: IMAN dan KEBAJIKAN dan PENGETAHUAN dan PENGUASAAN DIRI dan KETEKUNAN dan KESALEHAN dan CINTA dan PERIKEMANUSIAAN. Sekarang anda tahu bahwa IMAN bukan segalanya dan IMAN juga bukan SATU-SATUNYA karena IMAN hanya permulaannya saja karena IMAN hanya dasarnya saja karena IMAN hanya salah satunya saja. Anda mustahil mendapatkan yang lainnya bila kekeh jumekeh menjadikan IMAN sabagai SATU-SATUNYA dan SEGALANYA. Hanya memiliki IMAN? Anda pun menjadi orang BUTA dan PICIK!

Diselamatkan Oleh Iman

Karena diajak cucunya yang bernama Pai siu chen yang bergelar siluman ular putih, mbah Paijo yang berumur 80 tahun dan tinggal di desa Borobudur, dekat candi Borobudur pun menghadiri KKR yang dipimpin oleh Pdt. Tong Ki Eu. Ketika dengan panjang lebar Pdt. Tong Ki Eu menjelaskan tentang dosa dan ancaman Allah untuk menegakkan keadilan-Nya dengan menghukum orang-orang jahat setelah mereka mati dan nggak bisa jahat lagi, mbah Paijo hampir ngakak. Menurutnya Allah orang Kristen kurang cerdas. Keadilan harus ditegakkan dengan mencegah orang jahat menjahati sesama manusia, bukannya menghukum alias membalas dendam setelah mereka mati dan nggak bisa menjahati sesama manusia lagi.

Saat Pdt. Tong Ki Eu menerangkan bahwa Yesus yang sudah mati menggantikan (menebus) manusia menerima hukuman Allah. Mbah paijo pun bergumam, “Syukurlah kalau Yesus sudah menggantikan manusia menerima hukuman dari Bapa-Nya. Dengan demikian maka Bapa-Nya  Yesus bisa ikut membantu manusia mendidik sesama dan mencegah penjahat menjahati sesama manusia semasa hidupnya di dunia.” Mbah paijo sangat mengagumi kerendahan hati Yesus yang memaklumi cara berpikir Bapa-Nya yang kurang cerdas, yang mau menengakkan keadilan dengan memblas dendam kepada orang-orang jahat setelah mereka mati dan nggak bisa menjahati manusia lagi.

Ketika Pdt. Tong Ki Eu menjelaskan bahwa mereka yang mau selamat harus mengaku lahir batin (yakin dalam hati dan ngoceh dengan mulut) bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat serta mengundang-Nya untuk bertahta sebagai Raja di dalam hatinya, mbah Paijo pun ngomel, “Sus, Yesus sampeyan (anda) kok jadi sombong tho? Ngakunya hanya melakukan kehendak Bapa? Kok ujug-ujug menuntut pengakuan tho? Mbok kalau sudah berbuat baik itu ya jangan diagul-agulkan ke sana sini tho? Kok malah minta diakui dan dipuji setiap manungso (manusia) tho? Ngaku ne mati menebus dosa tanpa pamrih? Kok sa iki (sekarang) nuntut, nek mau SELAMET harus jadi Kresten?”

Mbah paijo pun menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir gelo (kecewa dan sedih). Beberapa saat kemudian dia tersenyum sambil menggumam, “Masak Yesus yang rendah hati kok ujug-ujug jadi jumawa tho? Jangan-jangan murid-murid-Nya yang kurang cerdas mengajarnya? Mesa ake Yesus! Kasihan Yesus!”

Pdt. Tong Ki Eu lalu menjelaskan bahwa orang Kristen harus hidup saleh dan mengembangkan kebajikan dan cinta kasih, mbah Paijo mengangguk-angguk setuju sebab itulah yang diyakini dan dijalaninya sejak kecil dengan sekuat tenaga. Sejak kecil mbah Paijo merasa nyaman meyakini hidup harus dijalani dengan saleh, seperti yang diajarkan oleh Sidharta Gautama yang digelari Budha. IMAN demikian membangkitkan harapan agar dirinya bertumbuh kembang menjadi orang saleh. Dia pun mengejar harapannya itu dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budinya. Berkali-kali gagal namun dia tidak pernah putus asa untuk mencoba lagi dan lagi dan lagi.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;  itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Efesus 2:8-10

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Ibrani 11:13

Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan. Ibrani 11:39-40

Mbah Paijo senang bukan kepalang ketika Pdt. Tong Ki Eu mengakhiri kotbahnya dengan mengutip ayat-ayat efesus dan Ibrani tersebut di atas. Meskipun belum menjadi orang yang benar-benar saleh namun dia sudah merasa nyaman meyakini hidup harus dijalani dengan saleh dan seumur hidup dia pun belajar menjadi saleh. Ternyata dia bukan satu-satunya orang yang tidak menerima apa yang diimaninya sejak kecil. Dia tahu belum menjadi CUKUP saleh namun dia mengejar kesalehan.

Ha ha ha ha ha ha …. Mbah Paijo melanggkah keluar dari ruang kebaktian dengan hati lega lilo. Dia tersenyum nyaris ngakak ketika mendengar seorang bocah berkata kepada ibunya, “Ma, ma, ternyata yang menyelamatkan kita itu si IMAN, bukan Yesus, ma.” Ha ha ha ha ha ….. Begitu saja senyum mbah Paijo lenyap karena ada yang membisikan sebuah tanya ke telinganya, “Mbah, yang menyelamatkan manusia itu IMAN siapa ya? Hai hai BERIMAN karena mamanya beriman. Hai hai beriman karena Iis beriman. Lha mbah beriman jangan-jangan karena siapa beriman? Siapa yang beriman duluan ya, mbah?” Ketika mbah Paijo gelagapan, mencari jawab, mengggelegar sebuah teriakan membelah angkasa:

EL SHABBATH!

Dia BERIMAN lalu SHABBATH! Berhenti dari segala pekerjaan penciptaan-Nya.

NB.
Blog ini khusus saya tulis untuk seorang teman: Glenn Manengkey. Saya mengamati ketika Iis bagadang membuat kue pengantin untuk adik angkatku yang akan menikah di Yogya. Saya mengamati ketika Iis begadang membuat kue pengantin untuk adinya yang akan menikah. Saya mengamati ketika iis begadang membuat kue ulang tahun untuk sahabatku Samuel Franklyn. Saya paham. Dia melakukannya bukan karena KASIHAN namun karena BELAS KASIHAN. BELAS KASIHAN bukan KASIHAN apalagi KASIHAN dech LU!

90 thoughts on “Iman Di Mata Seorang Tionghoa Kristen

  1. Yesus KEMBALI kepada orang BANYAK.

    KEMBALI dari mana? Kembali dari MENDAKI gunung yang Tinggi.

    Itu berarti ada DUA tempat yaitu:

    1. Tempat orang banyak

    2. Gunung yang tinggi

    Ketika Yesus ada di gunung, maka dia akan berkata GUNuNG iNi untuk menyebut GuNuNG tinggi.

    Ketika Yesus ada di tempat orang banyak, dia akan berakta GUNUNG ITU untuk menyebut GUNuNG yang TINGGi.

    Yesus TIDAK ada di GUNuNG yang tinggi lalu berkata GUNUNG INI, itu artinya yang dimaksudkan-Nya adalah GUNUNG lain yang bukan GUNUNG yang TINGGi.
    @veritas, tentu saja orang TOLOL seperti anda nggak akan menemukannya sebab setelah diberitahu pun anda menyangkalnya. Ha ha ha ha ha ha ….. Veritas alias Oen Tay Joeng yang mengaku bernama Gyntara Yongky Wenas dan menggelari dirinya Pst Wenas yang mengagul-agulkan DUA gelar sarjana PALSU-nya dari FEAST = Far East Asia Seminary Thology yang nggak pernah ada di Philipina, gimana mau pinter kalau HATI anda DENGKI, jiwa anda PICIK sehingga pikiran anda DEGIL dan maunya MENIPU melulu? ha ha ha ha ha ha ha … Sudahlah kisanak, Selain menyebut diri-Nya POHON anggur dan POHON Ara, Yesus juga menyebut dirinya BATU KARANG dan GUNUNG. Anda jangan SIRIK dong Yesus menyebut diri-Nya GUNUNG. Ha ha ha ha ha ha ha …..

  2. Hahahahaha….
    YESUS = GUNUNG ? Sampai MARANATHA ga akan loe temuin kalimat itu di ALKITAB walaupun loe pake TELESKOP ATAU MIKROSKOP hahahahaha. Itu hanya tafsir 1001 Mimpi sang penjilat muntah sendiri hahahahaha….

  3. Saya juga tidak menangkap bahwa Yesus = Gunung dan Yesus = Pohon Ara pada ayat di atas. Dalam kisah Yesus kembali kepada orang banyak, mungkin saja orang banyak itu sedang berkumpul di kaki gunung atau masih berada di dekat Gunung tinggi itu karena Alkitab tidak mencatat dimana kumpulan orang banyak itu berada, sehingga bukan hal yang aneh jika Yesus berkata “Gunung ini” untuk menunjuk kepada gunung dimana Ia dan murid-muridnya baru saja turun.
    Ketika Yesus berkata mengenai “Pohon Ara ini”, mungkin saja saat mengatakan hal tersebut Yesus dan murid-muridnya sedang berada di dekat sebuah pohon ara, karena Alkitab tidak mencatat sejauh apa pohon ara tersebut, sehingga bukan hal aneh jika Yesus berkata “Pohon Ara ini”.
    Kalau Gunung dan Pohon Ara yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah Yesus, bukankah itu akan menimbulkan kebingungan lagi pada para murid Yesus, sehingga kemungkinan mereka akan bertanya lagi. Alkitab memang tidak mencatat kelanjutan kisahnya, hanya saja agak aneh menurut saya kalau harus dipaksakan bahwa kata “Gunung ini” dan “Pohon Ara ini” mengacu kepada Yesus. Yesus memang pernah menyebut dirinya pohon anggur dan batu karang, tetapi itu memang dijelaskan olehNya.

  4. @Judy, ada SESEORANG berdiri dekat diri anda. Kemudian anda berkata, “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman biji sesawi, kamu dapat berkata kepada ORANG INI: Pindah dari SINI ke SANA – maka ORANG INI akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

    Ketika anda berkata seperti di Atas, apakah ORANG INI yang anda maksudkan adalah DIRI anda sendiri atau SESEORANG yang BERDIRI dekat diri anda?

    Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ. Matius 21:17

    Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Matius 21:18

    Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Matius 21:21

    Yesus sedang berjalan dari luar kota ke dalam kota Betania. Dia tidak sedang TURUN DARI GUNUNG yang TINGGI.

    Bukan MEMINDAHKAN Gunung namun BERKATA kepada GUNUNG INI, “PINDAHLAH dari SINI ke SANA.” BERKATA kepada GUNUNG INI, “Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut!”

    Kata KUNCINYA adalah BERKATA, bukan MEMINDAHKAN.

    Kata KuNCINYA adalah GUNUNG INI, bukan SEMBARANG GUNUNG.

    Kata KuNCiNYA adalah BERKATA kepada GUNUNG INI, bukan berkata kepada SEMBARANG GUNUNG.

  5. Kata “ORANG INI” yang Ko hai pakai sebagai contoh, saya tetap melihatnya ada dua kemungkinan. Jika saya mengatakan perkataan tersebut, maka bisa jadi ORANG INI berarti saya sendiri, tapi bisa juga berarti orang yang ada di dekat saya. Ini karena memang tidak ada penjelasan yang bisa lebih menggambarkan situasinya.

    Tapi thanks untuk Matius 21:21. Saya kira kata GUNUNG INI yang dikatakan oleh Yesus memang tidak mengacu kepada sebuah gunung yang berada di dekat Yesus.
    Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ. Matius 21:17
    Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Matius 21:18
    Dua ayat ini cukup memberikan penjelasan bahwa Yesus tidak sedang berada di kaki gunung atau tidak sedang berada di dekat gunung. Kalaupun ada gunung disana, Ia harus menggunakan kata “GUNUNG ITU”. Kata “GUNUNG INI” memang lebih tepat jika ditujukan pada Yesus sendiri.

    Matius 17:20 dan Matius 21:21 merupakan dua situasi yang berbeda, meskipun memiliki maksud perkataan Yesus yang serupa mengenai iman. Jika melihat dari Matius 21:21, mungkin saja Matius 17:20 kata GUNUNG INI memang juga ditujukan untuk diri Yesus sendiri, tapi saya belum bisa memahaminya.
    Catatan peristiwa yang terjadi adalah Matius 17:20 terlebih dahulu baru Matius 21:21. Bisa saja memang Matius 17:20 tetap mengacu pada GUNUNG, dan pada peristiwa Matius 21:21, Yesus menggunakan kalimat yang serupa dengan yang pernah dikatakan sebelumnya kepada para murid, tapi kali ini pengertian kata GUNUNG INI mengacu kepada diriNya (sebuah pengertian yang lebih dalam kepada para murid).

  6. Saya sudah cek, ternyata Betania memang terletak di lereng gunung Olivet. Kalau begitu saya ralat lagi. Mat 21:21 juga mengacu pada GUNUNG, bukan Yesus.
    Thanks.

  7. @veritas, Saya sudah cek, ternyata Betania memang terletak di lereng gunung Olivet. Kalau begitu saya ralat lagi. Mat 21:21 juga mengacu pada GUNUNG, bukan Yesus.
    Thanks.

  8. @Judy, Membaca ALKITAB memang harus secara menyeluruh. Posisi, waktu sangat bisa menentukan bagaimana memaknai sebuah cerita atau kisah.
    Untuk menguji sebuah ajaran, pertama diuji dulu istilah yang dia pakai, kalau istilah-istilah yang dipakai sudah ga benar maka otomatis ajaran yang dia ajarkan pasti ga benar.
    Point penting yang mau diajarkan YESUS pada saat moment tersebut adalah TIDAK ADA YANG MUSTAHIL !

  9. @veritas, Apa yang di tulis Hai hai pada blog ini mengajarkan saya untuk berpikir kritis dalam menilai sebuah ajaran. Saya memang bukan ahli menyelidiki Alkitab, saya hanya harus membawa setiap ajaran kembali kepada Alkitab. Saya seringkali terlewat untuk memeriksa kondisi waktu maupun lokasi yang terdapat di Alkitab. Tapi jika saya mendapatkan informasi yang mendukung, saya akan memeriksanya. Saya hanya mencari kebenaran, jadi jika saya salah lebih baik mengakuinya agar saya bisa mendapatkan yang benar.
    Artikel-artikel yang ada pada blog ini tidak semuanya bisa saya terima sebagai kebenaran, saya harus berhati-hati dalam menilainya. Hai hai bukanlah manusia tanpa kesalahan, tapi saya melihat ada kejujuran dari apa yang disampaikan, ada niat untuk mengajarkan kebenaran, meskipun terkesan sedikit memaksa dan banyak bermain kata-kata dan logika.

    Yang saya lihat disini, meskipun anda menyampaikan hal yang benar, namun anda tampak lebih bertujuan untuk menjatuhkan hai hai, bukan menguji ajarannya, karena hai hai pernah mengupas habis tentang anda. Sangat mungkin sekali anda mencari celah untuk menjatuhkan hai hai, dan berhasil menemukannya untuk kali ini. Menurut saya itu niat yang salah, tapi itu urusan anda dengan hai hai, saya hanya ingin kebenaran. Bagaimanapun terima kasih atas apa yang anda sampaikan.
    Satu lagi, menurut saya poin yang ingin disampaikan Yesus adalah “IMAN”, bukan “TIDAK ADA YANG MUSTAHIL”

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.