Wisely anakku, aku punya rahasia yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun sejak berumur 7 tahun. Aku takut pada kematian! Takut setengah mati! Bukan takut mati namun takut orang-orang yang aku sayangi mati.
Apa itu mati? Kenapa mati? Ke mana setelah mati? Apa yang terjadi setelah mati? Belajar dan belajar lalu belajar namun tak pernah menemukan jawabannya. Itu sebabnya aku menanggung ketakutan itu seorang diri.
Waktu aku masih SD, Akong (kakek) sering bilang pada Amah (nenek), “Anak itu selalu panik. Entah apa yang membuatnya panik?” Akong sama sekali tidak tahu bahwa aku bukannya panik namun ketakutan. Takut orang-orang yang aku sayangi mati.
Ketika Mama bercerita, kamu menangis karena mendengar cerita temanmu bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Aku diam, bukan karena tidak peduli, namun menyangka bahwa ketakutanku sudah mengalir dalam hatimu. Engkau takut pada kematian! Takut setengah mati! Bukan takut mati namun takut orang-orang yang kau sayangi mati. Aku tahu, yang kujelaskan padamu saat itu hanya berhasil menghiburmu untuk sebentar waktu. Aku menulis ini bukan untuk menunjukkan toleransi bahwa kita sama-sama takut pada kematian namun untuk memberitahumu bahwa aku telah menemukan jawabannya. Aku tahu apa itu lahir hidup dan mati.
Akho (bibi) Merry meninggal padahal aku masih belum memahami apa itu lahir, hidup dan mati? Walaupun tabah namun Amah (nenek) sedih sekali. Akong, walaupun diam dan tenang, namun setiap tarikan nafasnya, menelan pedang.
Kia kam lau lang si cengkeng tai. Lau lang kam kia si kholentai (anak menguburkan orang tua adalah hal alamiah, orang tua menguburkan anak, benar-benar mengenaskan). Itulah pepatah yang aku buat untuk menggambarkan kisah orang tua menguburkan anaknya.
Koko (kakak lelaki) Kenny dan cici (kakak perempuan) Memei, bukan hanya sedih dan kecewa namun juga kebingungan. Khotiu (suami akho), baru akan merasakan yang tak terjelaskan setelah semua tamu pulang. Segalanya tidak sama lagi. Dibutuhkan lebih dari ketabahan untuk menjalaninya hari lepas hari. Aku tidak mengucapkan satu kata pun kepada mereka, sebab tak memiliki kata-kata yang cukup berarti bagi mereka untuk diucapkan. Walaupun tak mampu menjawab pertanyan, “Kenapa akho Merry meninggal sekarang dan dengan cara demikian?” Namun seharusnya aku bisa memberitahu mereka tentang apa itu mati? 40 tahun belajar. Ada banyak jawaban, namun sayangnya, semua jawaban itu justru menambah pertanyaan baru tanpa menjawab pertanyaannya sama sekali. Benar-benar payah!
Namanya Asang. Anak bungsu Sapekong (paman kakek ketiga). Dia kena muntaber. Ketika bertanya, dewa memberi kertas jimat (hu) dan melarang untuk memberinya minum. Sorenya, Asang pun meninggal. Aku melihat semua wanita dewasa, termasuk mama, menangis. Selama berhari-hari kematian Asang menjadi bahan pembicaraan di rumah besar kami yang saat itu dihuni oleh 6 keluarga. Orang-orang dewasa diberitahu bahwa cara mereka menangani Asang yang muntaber dengan tidak memberinya minum sesuai dengan anjuran dewa benar-benar tolol. Muntaber artinya muntah dan berak, yang mengalaminya akan kekurangan cairan dan cara benar untuk menghadapi penyakit demikian adalah memberinya minum air garam dan gula. Setelah kematian itu, ada banyak kisah muntaber dalam keluarga besar kita namun tidak ada satu pun yang merenggut nyawa. Keluarga besar kita menyesali ketololannya dengan memastikan hal itu tidak akan pernah dilakukan lagi. Itu sebabnya, pembicara tentang cara menangani muntaber sering sekali muncul dalam pembicaraan anggota keluarga kita.
Beberapa tahun yang lalu aku sudah melakukan penelitian terhadap Tangki (orang yang dirasuki dewa) yang memberi kertas hu dan melarang memberi Asang minum. Dia adalah seorang penipu berkedok kerasukan dewa-dewi. Saat itu aku berumur 6 tahun dan berjanji dalam hati tidak akan pernah menyembah dewa tolol yang bahkan tidak tahu apa yang diketahui manusia. Itulah kematian pertama yang aku ingat.
Anak anjing berwarna putih itu sangat menggemaskan. Itu anjing keluarga Gopekong (paman kakek kelima). Dua orang saudara sepupuh, mereka adik kakak, melemparkan anjing itu ke kolam lalu membenamkannya. Anjing itu tenggelam lalu muncul ke atas air dengan terengah-engah. Mereka lalu membenamkannya lagi dan itu terjadi berulang-ulang.
Aku berusaha mencegah, namun mereka hanya tertawa. Ketika anjing itu muncul di tempat yang tidak terjangkau tangan, mereka menggunakan batang bambu untuk membenamkannya. Entah kali ke berapa mereka membenamkannya, anjing itu pun tidak muncul lagi. Aku kuatir setengah mati dan memberitahu mereka, jangan-jangan anjing itu mati seperti anak babi kami yang mati karena terjatuh ke dalam kolam. Mereka tertawa dan menyatakan bahwa di bawah air ada ada dunia lain. Anjing itu pasti ke sana. Keduanya lalu mengajakku meninggalkan kolam itu setelah meminta aku bersumpah untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentang yang mereka lakukan.
Sorenya aku kembali sendirian ke kolam itu lalu memanggil-manggil anjing itu, namun dia tidak menjawab. Kebesokan paginya, aku pergi lagi ke kolam itu dan berteriak-teriak memanggilnya, namun anjing itu tidak mendengarnya. Sorenya, anjing itu muncul dengan badan bengkak dan mati. Akulah yang dituduh membenamkan anjing itu oleh orang-orang dewasa termasuk Aco (buyut). Tentu saja aku menyangkalnya mati-matian. Namun, ketika diminta untuk memberi tahu siapa yang melakukannya, aku menolaknya mentah-mentah. Janji Enghiong (pendekar) mustahil ditarik kembali walaupun oleh empat ekor kuda. Itulah pepatah yang diajarkan kepada kami dan aku menaatinya karena yakin diri sendiri adalah seorang Enghiong.
Cerita orang-orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar tentang dunia lain ternyata bohong belaka. Aku pun berjanji untuk menjadi orang pinter agar tidak ditipu oleh orang-orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar lagi. Saat itu aku berumur 6 tahun. Itulah kematian kedua dalam hidupku. Hal itu terjadi beberapa bulan setelah kematian Asang.
Saat itu aku berumur 7 tahun. Aku lupa namanya. Dia anak lelaki bungsu Apekong (paman kekek pertama), saudara sepupu tertua akong (kakek). Dia menginjak paku hingga telapak kakinya terluka. Setelah terbaring beberapa hari di rumah dia lalu dibawa ke rumah sakit. Dia kena titanus. Rahangnya mengeras. Itulah pembicaraan orang-orang dewasa. Asang pun mati beberapa hari kemudian. Di suatu siang. Saat itu turun hujan namun matahari bersinar terang. Menurut orang-orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar, itulah tanda seseorang mati penasaran alias mati namun tidak rela dengan kematiannya karena belum waktunya untuk mati.
Asang mati dan aku takut sekali! Aku takut kematian! Bukannya takut mati, namun takut salah satu dari ke 6 adikku mati. Aku pun menjaga adik-adikku dengan baik, mengawasi mereka agar tidak terluka dan kena titanus lalu mati. Pada malam hari ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Aku takut tidur sebab kuatir pada saat tidur, giam lo ong (raja neraka) datang lalu membunuh salah satu adikku. Aku berusaha melawan rasa kantuk dan terus berusaha keras agar tidak tertidur. Aku jaga malam sampai tertidur dan bangun ketakutan bahwa giam lo ong telah membunuh salah satu adikku. Ketika menemukan semuanya baik-baik saja, aku senang sekali dan berjanji nanti malam tidak akan ketiduran lagi. Aku tidak tahu berapa lama hal itu terjadi. Setiap kali rasa takut itu muncul, aku pun jaga malam sampai ketiduran dan terbangun ketakutan. Itulah kisah kematian ketiga dalam kehidupanku.
Kami memotong sedotan dengan panjang sekitar 2 cm lalu memotong salah satu ujung sedotan menjadi lancip. Ketika ditiup pada bagian yang lancip, sedotan pun berbunyi seperti peluit. Kami menyebutnya peluit sedotan. Plastik tidak boleh dimakan karena bisa menyebabkan kematian, begitu pun permen karet. Itulah yang kami pahami saat itu. Suatu malam, salah satu adik lelakiku menelan pluit sedotan. Aku kuatir bukan alang kepalang namun tidak berani memberitahu mama karena takut disalahkan.
Setelah berpikir, aku menemukan akal. Aku mengajaknya untuk berak agar sedotan itu keluar. Dia patuh dan berusaha untuk berak, namun sedotan itu tidak keluar. Dia pasti mati karena telah menelan plastik. Aku takut bukan alang kepalang. Aku pun menjaganya semalaman agar tidak mati. Pagi-pagi aku membangunkannya lalu menyuruhnya berak. Aku tidak menemukan sedotan itu walau pun sudah mengaduknya dengan teliti agar cair. Ketakutan itu pun menjadi-jadi namun aku tidak berani memberitahu mama apalagi papa sebab takut disalahkan. Aku menjaganya seharian lalu menjaganya semalaman lalu membangunkannya untuk berak dan tetap tidak menemukan sedotan itu. Ketakutanku semakin menjadi-jadi.
Aku menjaganya siang dan malam. Menjaga sampai tertidur lalu bangun ketakutan dan merasa lega setengah mati karena dia masih hidup. Aku lupa berapa lama hal itu berlangsung. Setiap pagi membujuknya untuk berak dan kecewa sekali karena tidak menemukan sedotan itu. Aku menjaganya siang dan malam. Aku menjaganya tanpa pernah memikirkan apa yang akan kulakukan bila giam lo ong datang untuk mencabut nyawanya? Aku menjaganya sebab saat itu yang terpikir hanya menjaganya.
Dia tidak mati-mati, namun dia pasti mati karena sudah menelan plastik. Aku terus menjaganya agar tidak mati. Aku tidak tahu berapa lama hal itu berlangsung namun aku ingat terkadang aku lupa bahwa dia pasti mati karena sudah menelan plastik. Namun setiap kali ingat, aku pun menjaganya. Menjaganya waktu siang dan menjaganya waktu malam agar dia tidak mati. Saat itu aku berumur 7 tahun. Aku takut dia mati. Aku menyayanginya! Rasa takut itu hilang bertahun-tahun kemudian setelah aku memahami bahwa asam lambung, bukan hanya mampu mencerna plastik namun juga logam.
Saat itu aku kelas 4 SD. Salah satu adik kelasku, anak perempuan, kelas 3, mati karena tertabrak mobil ketika menyeberang jalan. Dia disukai banyak orang dan guru-guru memanjakannya. Aku melihat jenasahnya di dalam peti. Walaupun didandani cantik sekali namun aku mencium bau nanah dan melihat luka-luka memar biru hitam di wajahnya. Aku juga melihat cairan kuning mengalir keluar dari sela-sela bibirnya, hidungnya dan telinganya, kental menjijikkan. Benar-benar mengerikan!
Berhari-hari aku selalu muntah karena bayangan itu. Itulah pertama kali aku melihat mayat. Itulah yang akan terjadi bila salah seorang yang kusayangi mati. Aku ketakutan! Selama berhari-hari wajah dan sosok tubuh itu menghantuiku. Sia-sia aku berusaha melupakannya. Sampai hari ini, wajah dan sosok tubuh itu tak pernah hilang dari ingatanku. Aku ketakutan! Aku takut orang-orang yang kusayangi mati ditabrak mobil atau mati tabrakan.
Ketika amah (nenek) pergi menjual kue, aku menunggu di rumah dengan rasa kuatir jangan-jangan dia mati ditabrak mobil atau mobil yang ditumpanginya tabrakan. Ketika Akong pergi menjual kue. Aku ketakutan, jangan-jangan dia mati ditabrak mobil atau mobil yang ditumpanginya tabrakan. Aku menunggu dalam ketakutan. Aku berdoa seperti yang diajarkan di sekolah dan sekolah minggu, namun hal itu sama sekali tidak membantu. Aku tetap ketakutan. Takut! Rasanya seperti ada sebuah lobang di ulu hati dan ada sebuah benda di dalamnya. Itulah kematian keempat di dalam hidupku.
Saat itu aku kelas empat SD dan rajin ke gereja ikut sekolah minggu juga suka baca Alkitab bahkan ikut kurus Alkitab tertulis. Guru-guru sekolah minggu dan pak pendeta serta kursus Alkitab tertulis mengajarkan bahwa orang-orang mati akan dibangkitkan pada hari kiamat. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, menurutku saat itu, melakukan hal demikian, bodoh sekali. Untuk apa membangkitkan orang mati pada hari kiamat? Bukankah pada hari kiamat semua orang sudah mati? Bila semua orang sudah mati untuk apa lagi dibangkitkan? Aku tidak mau dibangkitkan pada hari kiamat. Aku mau hidup selamanya seperti dokter setan (penjahat dalam komik Godam). Aku juga tidak perlu orang-orang yang aku sayangi dibangkitkan pada hari kiamat. Aku mau orang-orang yang kusayangi tidak mati-mati.
“Anak itu hidup dalam kepanikan. Entah apa yang membuatnya panik.” Akong sama sekali tidak tahu bahwa aku tidak panik namun ketakutan. Aku takut orang-orang yang aku sayangi mati. Aku tidak tahu kenapa tidak pernah menceritakan ketakutanku itu kepada orang lain. Mungkin karena tidak seorang pun pernah bertanya kepadaku. Aku mau jadi orang sakti sebab selain panjang umur, orang sakti juga bisa menyembuhkan orang lain dan melindungi orang-orang yang disayanginya.
Aku suka membaca. Membaca apa saja, komik dan buku-buku cerita terutama cerita silat. Aku suka nonton terutama Film laga. Aku melatih semua ilmu yang tercatat di dalam buku-buku yang aku baca dan film-film yang aku tonton. Tak pernah terpikir sedikit pun saat itu bahwa semua yang kubaca dan kutonton tersebut tidak lebih dari dongeng belaka. Aku ingin menjadi orang sakti. Bila sakti maka aku takkan takut orang-orang yang kusayangi mati.
Aku takut orang-orang yang kusayangi mati. Rasa takut itu menjadi-jadi ketika ada orang mati. Aku takut melihat orang menangis karena kematian. Aku takut melihat mayat. Benar-benar mengerikan! Mengenalinya namun merasa asing bahkan takut padanya. Aku takut orang-orang yang aku sayangi mati. Bila orang yang disayangi mati, kita tidak bisa menyayanginya lagi bahkan akan ketakutan ketika melihat hantunya. Aku tidak suka melayat. Bila terpaksa melayat, aku berusaha untuk tidak melihat mayatnya. Aku tidak suka kuburan. Selain bau bangkai, juga membangkitkan rasa kuatir orang-orang yang kusayangi mati.
Wisely anakku, saat itu engkau berumur 2 tahun, Akho Cilin meninggal. Yang paling kutakuti pun terjadi. Salah seorang yang kusayangi mati. Aku menangis sendirian tanpa suara lama skali, namun tidak merasa lega. Pemeriksaan Laboratorium menunjukkan Akho Merry juga menderita Lupus seperti Akho Cilin. Itu berarti dia bisa mati kapan saja. Setegar gunung, seteduh danau. Namun rasa takut itu tidak pernah hilang! Mustahil mencegah kematian.
Semua yang hidup pasti mati. Orang-orang yang kusayangi mulai mati. Aku tidak takut mati. Namun, aku takut orang-orang yang kusayangi mati. Aku takut kematianku menyebabkan orang-orang yang menyayangiku sedih. Itu sebabnya aku ingin menjadi orang terakhir yang mati di antara orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Namun itu hanya harapan. Belum tentu hal itu yang terjadi. Kematian bisa mendatangi siapa saja setiap saat dia menginginkannya.
Sapekong (paman kakek ketiga) meninggal. Aku ingat, saat itu Saempho (istri Sapekong) menatapku. Dia sama sekali tidak menangis. Namun, yang diucapkannya lewat matanya benar-benar mengenaskan. Aku tidak mengucapkan satu patah kata pun. Hanya mengelus tangannya, untuk memberitahunya bahwa aku tidak bisa menolongnya. Sejak itu aku tidak pernah melihatnya berbahagia lagi. Dia menunggu kematian menjemputnya dan dia berharap hal itu segera terjadi, mungkin dia percaya, kematiannya akan mempertemukannya lagi dengan Sapekong. Dia menunggu selama tiga tahun lalu mati.
Gopekong (paman kakek kelima) meninggal. Kami sering ngobrol. Ngobrol tentang berbagai hal. Dia sahabat tuaku. Itu sebabnya kami selalu ngobrol sebagai sahabat, bukan sebagai paman dan ponakan. Dia tahu waktunya hampir tiba namun gentar menghadapinya. Dia bermimpi, mungkin berhalusinasi. Dia sedang duduk di depan rumahnya dan melihat aku melewati rumahnya. Dia memanggilku namun aku terus berlalu. “Apakah aku bersalah kepadamu sehingga engkau membenciku? Bila aku bersalah padamu, tolong maafkan aku!” Itulah yang diucapkannya ketika aku menjenguknya di rumah sakit.
“Gopek (paman kelima).” Panggilku sambil mengelus tangannya dan memijitnya serta menatapnya. “Lu tidak bersalah sama gua! Kalaupun lu bersalah sama gua, gua nggak akan pernah membenci lu. Generasi tua boleh membenci generasi muda tanpa alasan namun generasi muda tidak boleh membenci generasi tua dengan alasan apa pun. Itulah hao (bakti). Pernahkah lu melihat gua mengingkari hao?” Gopek tertawa dan meremas tanganku. Dia menatapku dan aku membalas tatapannya. Tak seorang pun menyadari bahwa saat itu kami sedang ngobrol tentang sesuatu yang lain. Mungkin suatu saat saya akan ceritakan kepadamu, anakku, apa yang kami bicarakan saat itu. Untuk saat ini baiklah engkau tahu bahwa saat itu kami bicara tentang kentalnya darah.
Jiipho (bibi nenek kedua) meninggal. Aku berkabung namun tidak melayat. Pengecut! Benar! Aku tahu, diriku takkan sanggup melihat mama dan saudara-saudara sepupuhku bersedih dan merintih, duka! Egois! Benar! Biarlah aku menangis sendirian di malam buta tanpa suara. Hal itu lebih baik dari menangis di depan peti matinya, bukan? Aku menyayanginya. Benar-benar menyayanginya.
Aku menyayangi mereka semua. Aku juga menyayangi orang-orang yang menyayangi mereka. Aku menangis sendirian di malam buta tanpa suara. Sakit sekali rasanya! Mereka menyayangiku. Mereka mengajariku tentang berbagai hal ketika aku kecil dan selama tumbuh dewasa. Setelah dewasa mereka menjadi sahabat-sahabatku. Teman-teman ngobrol tentang berbagai hal. Mereka mati dan aku tidak tahu, mungkinkah bertemu dengan mereka lagi suatu saat nanti? Aku kangen dan tak tahu, mungkinkah bertemu dengan mereka lagi suatu saat nanti? Benar-benar mengenaskan!
Wisely anakku, rasa takut itu tidak pernah hilang bahkan rasa takut itu tidak pernah berkurang. Aku belajar dan berharap sebelum kematian berikutnya, aku sudah memahaminya. Apa itu mati? Kenapa mati? Ke mana setelah mati? Apa yang terjadi setelah mati? Mungkinkah bertemu lagi dengan orang-orang mati?
Di dunia ada banyak sekali ajaran tentang hidup setelah mati. Apapun merek dagangnya namun semua ajaran itu pasti berakhir dengan pernyataan, “Mati adalah misteri yang mustahil dipahami manusia. Kita hanya bisa mengimaninya.” Mengimaninya artinya berhenti bertanya dan merasa puas karena tidak tahu. Ajaran demikian benar-benar mengenaskan.
Setelah mengagul-agulkan ajarannya mereka menutupnya dengan kalimat, “Kita hanya bisa mengimaninya. Mengimaninya artinya berhenti bertanya dan merasa puas karena tidak tahu.” Anakku, tahukah perbedaan orang beragama dan orang tidak beragama? Orang tidak beragama tidak tahu itu sebabnya mereka tidak mau tahu. Orang beragama berlagak tahu itu sebabnya mereka tidak mencari tahu.
Tahukah persamaan orang beragama dan orang tidak beragama? Mereka sama-sama tidak tahu namun berlagak sok tahu. Itu sebabnya papamu tidak pernah menyebut dirinya orang beragama juga tidak pernah menyebut dirinya orang tidak beragama. Dia menyebut dirinya seorang Tionghoa Kristen. Itu sebabnya, papamu tidak pernah berhenti mencari tahu. Bila aku mati sebelum memahaminya, maka engkaulah yang akan melanjutkan untuk mencari tahu. Bila engkau pun mati sebelum memahaminya, maka anakmulah yang akan melanjutkan untuk mencari tahu. Pengetahuan tentang mati adalah satu-satunya cara untuk menghindarkan manusia dari ketakutan akan kematian, takut mati terutama takut orang-orang yang disayangi mati.
Wisely anakku, di antara orang-orang beragama, orang Kristenlah yang paling mengenaskan. Kenapa demikian? Karena mereka getol sekali mengagul-agulkan agamanya sebagai yang terhebat di dunia dan menyatakan, “Jesus is The Unswer! Yesus adalah jawaban!” Apa itu mati? Yesus! Kenapa manusia mati? Yesus! Ke mana setelah mati? Yesus! Apa yang terjadi setelah mati? Yesus! Itu sebabnya dikatakan, “Yesus adalah jawaban!” Anakku, kenapa banyak orang Kristen sok tahu di dunia ini? Karena mereka tahu bahwa mereka tahu jawaban atas semua pertanyaan di dunia ini. “Yesus adalah jawaban!” Ha ha ha ha ha ….
Boy, kenapa banyak orang Kristen takabur di dunia ini? Karena beriman artinya berhenti bertanya dan merasa puas karena tidak tahu. Itu sebabnya semakin tidak tahu mereka semakin takabur, sebab itu berarti mereka semakin beriman. Mereka percaya, iman alias berhenti bertanya dan merasa puas karena tidak tahu akan membawa mereka ke sorga. Ha ha ha ha ha ……
Wisely anakku, tahukah kenapa begitu banyak ajaran Alkitab yang belum dipahami jemaat Kristen generasi ini padahal Alkitab sudah selesai ditulis sekitar 2000 tahun yang lalu? Karena mereka bangga dengan imannya alias berhenti bertanya dan merasa puas karena tidak tahu. Itu sebabnya alih-alih belajar, mereka justru getol sekali mengagul-agulkan ketidak tahuannya.
Allah menciptakan dua alam yaitu: sorga dan dunia. Meninggalkan sorga pergi ke dunia namanya LAHIR. Meninggalkan dunia pulang ke sorga namanya MATI. Sebelum dilahirkan manusia adalah bintang-bintang. Setelah mati manusia adalah Anthropos Theos (manusia Allah). Bintang-bintang artinya banyak bintang. Bintang punya cahaya sendiri dan cahayanya menerangi dunia. Bintang-bintang artinya terang yang banyak sekali jumlahnya. Itu sebabnya dikatakan bahwa jumlah manusia sama banyaknya dengan bintang-bintang di sorga (Ibrani: Shamayim; Yunani: Auranos).
Hidup adalah bertumbuh kembang menggenapi kodratnya (tujuan penciptaannya). Hidup adalah proses dari bintang menjadi seorang pribadi manusia Allah. Ibarat tanah liat di tangan penjunan, setiap peristiwa yang dihadapi akan memberikan satu goresan pada pribadi seorang manusia. Ada yang mati tua karena tubuhnya tidak sanggup lagi menjalani hidup. Ada yang mati sakit karena tubuhnya tidak sanggup menghadapi penyakit. Ada pula yang mati dibunuh. Ada pula yang mati terbunuh. Ada berbagai cara untuk mati, namun MATI itu satu adanya.
Mati adalah berpisahnya yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Di Perjanjian Lama, mati adalah berpisahnya tubuh dan jiwa. Di Perjanjian Baru, setelah Roh Kudus dicurahkan maka mati artinya berpisahnya tubuh dengan jiwa dan Roh Kudus. Di dunia, Roh Kudus menjadi satu daging dengan jiwa manusia. Di sorga arwah manusia menjadi satu ROH dengan Roh Kudus. Mati adalah pulang ke tempat dari mana manusia datang. Dari sorga kembali ke sorga. Dari rumah Bapa kembali ke rumah Bapa. Itulah MATI!
Bagaimana dengan orang-orang jahat? Wisely anakku, kenapa seseorang berbuat jahat? Ada yang berbuat jahat karena menyangka itulah cara untuk menjalani hidup yang benar. Ada pula yang berbuat jahat karena menyangka dirinya tidak sanggup lagi menjalani hidup sebagai orang baik. Itu sebabnya di atas salib Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Itu sebabnya ketika segala kuasa di dunia dan di sorga diberikan kepada-Nya, Yesus pun mengampuni seluruh umat manusia karena manusia tidak tahu apa yang yang diperbuatnya.
Apabila tidak menghukum orang jahat, bukankah itu berarti Allah tidak mahaadil? Karena mahaadil mustahil Allah menghukum mereka yang tidak tahu yang dilakukannya, bukan? Menghukum artinya membalas kejahatan dengan kejahatan. Membunuh orang yang membunuh. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Bila mahaadil adalah membalas kejahatan dengan kejahatan, itu berarti Allah memang tidak mahaadil. Oleh karena itu Dia mengajarkan hal di bawah ini.
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Lukas 6:27-28
Wisely anakku, jangan pernah takut pada kematian. Juga jangan pernah takut orang-orang yang kita sayangi mati karena mati adalah perjalan pulang ke sorga dari mana kita datang. Kita takut orang-orang yang kita sayangi mati sebab tidak ada kepastian mungkinkah bertemu mereka lagi? Kita takut orang-orang yang kita sayangi mati sebab menyangka tidak bisa menyayangi mereka lagi. Kita takut orang-orang yang kita sayangi mati sebab menyangka orang-orang mati akan pergi ke tempat berbeda, ada yang ke sorga dan ada yang ke neraka.
Sekarang kita tahu bahwa mati adalah kembali ke tempat dari mana kita berasal. Kita datang dari sorga, itu sebabnya pasti pulang ke sorga. Neraka? Allah tidak pernah menciptakannya. Aku tak takut lagi orang-orang yang kusayangi mati, sebab yang terjadi hanya berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Aku tak mau jaga malam lagi.
rudi kristianto, saya senang tulisan-tulisan saya berguna bagi anda. Bila anda suka dan berguna, tolong jangan lupa beritahu yang lainnya juga. Siapa tahu mereka juga akan suka dan berguna bagi mereka. Satu hal saya ingatkan, tolong, jangan lupa menguji apa yang saya tulis dengan Alkitab sebagai standard kebenaran. Walaupun saya telah mengujinya dan ada puluhan teman yang ikut mengujinya, namun itu bukan jaminan 100% pasti benar.
Samuel Franklyn, sahabat saya sering berkata, “Alkitab harus digali dan dipahami beramai-ramai!”
tapi kenapa dikatakan ada tempat sesudah kematian dimana ada ratap dan kertak gigi? maksudnya apa ko?
teophillus, apabila anda mempelajari dengan teliti, maka FRASA yang benar adalah RATAPAN yaitu KERTAK GIGI. Menangis sambil menggertak gigi. Orang yang TERSIKSA tidak akan MENANGIS SAMBIL MENGERTAK GIGI. Dia akan Menangis sambil mengaduh-aduh. Orang yang MARAH tidak akan MENANGIS sambil MENGGERTAK gigi namun dia akan MEMAKI sambil menangis. Bila tidak BERANI memaki terang-terangan, Dia memaki dalam hati. Orang yang MENANGIS sambil MENGGERTAK gigi adalah orang yang MENYESAL.
Silahkan melakukan SURVEY tentang hal yang saya jelaskan di atas. Sebab saya mengetahui kebenaran demikian setelah melakukan SURVEY atas 1000 lebih orang selama belasan tahun.
Saudara teophillus, pernahkah anda duduk diam lalu mengenang hal hal tidak menyenangkan alias kekerasan baik fisik maupun psikis yang TELAH anda lakukan kepada orang LAIN? Secara tidak SADAR anda akan MENGGERTAKKAN gigi anda. Kenapa demikian? Karena anda TAHU PASTI bahwa ADA JALAN LAIN namun anda melakukan yang TELAH anda lakukan. Saya beri contoh:
Waktu SD dan sekolah di SD Kristen (Penabur), saya dikenal dengan reputasi JAGOAN melempar dan mengatapel. Lemparan saya dan katapel saya sangat akurat. Itu sebabnya seing sekali saya dibon alias diajak oleh teman-teman untuk nyolong buah-buahan menggunakan keahlian saya tersebut. Di SD kami, permainan KASTI adalah olahraga yang dimaninkan. Waktu itu ada adik kakak, perempuan yang judes sekali. Kakaknya bernama Ayun dan Adiknya bernama Susi. Mereka sama miskinnya dengan saya dan selalu menjadi outsider di sekolah kami. Mereka juga sama seperti saya, penuh harga diri dan pantang menyerah. Itu sebabnya, mereka tidak pernah menyerah ketika main kasti dan saya memegang bola. Seharusnya mereka JONGKOK tanda menyerah namun mereka tidak pernah melakukan hal itu. Semua orang teman sekelas saya juga teman teman kelas lainnya bahkan yang kelasnya lebih tinggi. TAHU keakuratan dan kekerasan lemparan bola saya. Itu sebabnya mereka JONGKOK tanda menyerah.
Tidak menyerah artinya MENANTANG. Itu sebabnya saya pun menerima tantangan mereka dengan baik. Lemparan sekeras dan seakurat mungkin. Keduanya tidak pernah menangis dan hanya MERINGIS ketika bola yang saya hunjamkan menghajar kepala atau punggung atau perut mereka. Hasilnya selalu MEMAR dan BIRU kehitaman.
Setelah lulus SD, kami berpisah. Dan ketika SMA saya sadar bahwa yang saya lakukan terhadap mereka itu SALAH. Saya mencari mereka namun sampai hari ini Tidak pernah menemukan mereka. Saya mau minta Maaf kepada mereka atas apa yang pernah saya lakukan atas mereka. Yang saya lakukan itu KEJAM sekali. Setiap kali mengingat apa yang saya lakukan terhadap mereka, tanpa saya sadari, saya MENGGERTAK gigi dan menahan air mata. Informasi terakhir tentang mereka saya terima antara 10-15 tahun yang lalu. Mereka tumbuh sebagai wanita cantik dan bahagia dengan hidupnya serta berprestasi. Hal itu sangat menghibur namun saya tidak pernah mencari mereka. Saya mau minta maaf dan berharap mereka memaafkan perilaku TOLOL saya waktu kecil.
Itulah NERAKA. MERATAP sambil MENGGERTAK gigi karena menyesali KETOLOLAN yang TELAH dilakukan. Saya merasa tidak BERHAK mengampuni diri sendiri sebelum kedua adik kakak yang tabah dan tegar serta penuh harga diri itu memaafkan diri saya.
Waktu SD saya punya seorang teman, namanya Toto. Dia juga sama miskinnya dengan saya dan selalu menjadi outsider di sekolah kami. Dia bukan petarung yang baik itu sebabnya selalu kalah bila berantem. Namun nyalinya luar biasa alias dia tolol sekali. Dia tidak pernah mundur apalagi minta ampun walaupun babak belur dihajar lawannya. Pada saat itu, siapa pun yang berani menghajar Toto, pasti saya hajar habis-habisan. Si Toto memang TOLOL. Itu sebabnya ketika berhadapan dengan saya pun dia tidak pernah menyerah walaupun saya sudah menghajarnya habis-habisan. Reputasi harus dijaga. Itulah yang saya pahami saat itu. Itu sebabnya bila bertarung dengan Toto, saya akan menghajarnya habis-habisan dengan kejam walaupun sambil meneteskan air mata karena kesal melihat ketololannya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa saya menyayanginya.
Waktu kuliah, saya mendengar kabar, si Toto mati ditusuk orang ketika memberitakan Injil di sebuah diskotik. Selama bertahun-tahun saya tidak bisa memaafkan diri sendiri. Kenapa demikian? Karena saya merasa GAGAL mengajari Toto. Saya sering berpikir, Apabila waktu SD saya menghajarnya lebih sadis lagi, mungkin si Toto akan sadar bahwa KEBERANIAN tanpa PERHITUNGAN itu TOLOL namanya. Itu sebabnya setiap kali ingat dan kangen dengan si Toto atau ketika teman temang mengenang si Toto, saya tanpa sadar MENGGERTAK gigi menahan TANGIS. Toto yang TOLOL namun saya benar-benar menyayanginya.
teophillus, anda mau tahu NERAKA? Itulah NERAKA tempat di mana manusia MERATAP sambil MENGGERTAK gigi. MENYESAL!
Ko…t’rus bagaimana memahami tentang kisah Lazarus dan miskin dan si kaya yang pelit ?
maksudnya Lazarus yang miskin yang ada di pangkuan Abraham dan si kaya yang ada di neraka ?
Jika demikian, apakah artinya semua orang akan ke tempat itu (neraka)? Setiap orang pasti memiliki rasa penyesalan dalam hidupnya, bukan? Apakah bayi atau anak2 juga menyesali pernuatan mereka?
5p Arta: Ko…t’rus bagaimana memahami tentang kisah Lazarus dan miskin dan si kaya yang pelit? maksudnya Lazarus yang miskin yang ada di pangkuan Abraham dan si kaya yang ada di neraka?
Itu bukan kisah nyata namun perumpamaan. Anda lihat yang dialami oleh si KAYA? Apakah dia DISIKSA? Apakah dia dibakar? Diblender otaknya? Diuleg matanya? dicincang lidahnya? TIDAK dia hanya HAUS! Anda ingat yang dia minta? Mengirim Lazarus sebagai Nabi untuk MENGINGATKAN saudara-saudaranya. Itu CINTA KASIH namanya.
NERAKA yang aneh, bukan?
Bukankah kehausan adalah sebuah siksaan ? Bukankah mereka yang tinggal di luar tetap merasakan siksaan ? Karena mereka tersiksa, maka mereka meratap dengan menggertakan gigi ? Memang tidak ada lautan api.
Karena itu apa kah yang akan terjadi dengan mereka yang tinggal di luar ?
sijoni: Jika demikian, apakah artinya semua orang akan ke tempat itu (neraka)? Setiap orang pasti memiliki rasa penyesalan dalam hidupnya, bukan? Apakah bayi atau anak2 juga menyesali pernuatan mereka?
MENGAMPUNI. Yang paling sulit adalah MENGAMPUNI diri sendiri.
Seorang wanita cantik, jatuh cinta kepada seorang pemuda lalu dia menyerahkan jiwa raganya bahkan hartanya. Lelaki itu lalu menjadi BOSAN dan menemukan yang wanita lainnya yang lebih menggiurkan. Dia pun minggat meninggalkan wanita cantik itu.
Apa yang terjadi pada wanita itu? Masalah utama wanita itu adalah DIA SULIT sekali MENGAMPUNI dirinya sendiri. Dia sulit sekali menerima kenyataan bahwa dia adalah wanita TOLOL dan GATAL yang mudah sekali dirayu dan dibuai. Dia sulit sekali menerima kenyataan bahwa dia jatuh cinta kepada seorang bajingan.
Menurut saya, di sorga akan banyak orang yang menyingkir, menyendiri lalu secara diam-diam menyesali dirinya. Mereka akan melakukannya sampai menemukan kebijaksanaan untuk mengampuni dirinya sendiri.
Ko,betapa berartinya penjelasan Ko di atas ttg neraka.Makasih byk Ko.Saya sdh terlanjur bertanya di blog sebelah sblm baca penjelasan Ko di blog ini.Skrg saya baca Alkitab dgn paradigma baru.Benar2 thank you Ko..