Kampus-Kampus Tanggal 13 Mei 1998


Di Jakarta, tanggal 13 Mei 1998, tidak ada mahasiswa yang beraksi di luar kampusnya masing-masing. Semua mahasiswa BERKABUNG. Trisakti menggelar “Solidaritas Trisakti” di dalam kampusnya dan menyambut perwakilan aneka Kampus. 

Untuk menghindari keributan dengan masa di luar kampus yang memaksa demo ke MPR, pintu gerbang pun ditutup dan dijaga.

Sore harinya muncul satu peleton pasukan mengenakan baju terusan (semacam Wearpack) warna abu-abu dan helm PHH (Pasukan Anti Huru-Hara) tanpa tanda kesatuan di luar kampus Atma Jaya. Mereka menyandang perisai dan pentungan serta senapan laras panjang SS-1 V-1 tanpa magasin. Tanpa magasin artinya paling banyak hanya bisa menembakkan satu peluru. Mereka sedang mengumumkan dirinya tidak bermaksud menembak? Saya tidak tahu.

Kampus Trisakti Pada 13 Mei 1998

Kampus dipenuhi mahasiswa Trisakti, Untar dan Ukrida serta perwakilan barbagai kampus lain. Hanya yang menunjukkan kartu mahasiswa atau yang dikenal boleh masuk.

Sekitar jam 11.00, sekelompok masa berbaju koko dan berpeci, dilarang masuk karena tidak punya kartu mahasiswa dan tidak dikenal. Mereka memaksa masuk dengan bringas namun di halau tanpa tedeng aling-aling. Masa itu melakukan Shalat Ghaib (Shalat dari jauh untuk mayat) di jalan S Parman. Selesai shalat mereka pun berteriak-teriak mengajak mahasiswa ikut ke MPR. Karena diabaikan mereka pun memaki, “Mahasiswa Pengecut!” dan melempari mahasiswa dengan batu.

Sekitar jam 13.00, masa berseragam SMA dan SMP memenuhi Jl Kyai Tapa di luar kampus Trisakti. Seragam mereka tidak lengkap bahkan anak SMP pakai celana panjang. Umurnya terlalu tua untuk anak SMA apalagi SMP. Mereka mencegat lalu membajak truk tanah berwarna kuning yang lalu ditabrakkan ke pom bensin di sebelah terminal Grogol.

Ketika aparat bergerak menghalau, masa melawan dengan lemparan batu sambil berteriak, “Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!” Sebagian mahasiswa di dalam kampus ikut meneriaki polisi, “Hai anjing LU! Pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!”

Dari atas jembatan layang, beberapa orang aparat membidik  mahasiswa di dalam kampus dengan senjata laras panjang yang siap diletuskan. Melihat hal demikian, mahasiswa Trisakti dan Untar pun kalap lalu keluar kampus dan menantang aparat untuk menembak. Tantangannya diabaikan mahasiswa pun  melempari aparat dengan batu. Aparat kabur. Mundur.

Sekitar jam 14.00, mahasiswa dikejutkan teriakan, “Polisi datang. Siap-siap!” Sebagian mahasiswa segera berlindung yang lainnya justru mencari batu untuk berperang. Bunyi senapan memekakan telinga dan gas air mata mengebul di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa kampus lain pun memutuskan untuk meninggalkan Trisakti. Dipimpin oleh mahasiswa Ukrida dan Untar mereka memanjat ke kampus Untar lalu keluar di Jl. Tawakal dan menghilang lewat jalan-jalan tikus.

Atma Jaya Tanggal 14 Mei 1998

Di dalam kampus, mahasiswa melakukan orasi mendukung reformasi. Adnan Buyung Nasution juga hadir dan diberi kesempatan berorasi.

Aneh bin ajaib! Satu peleton (sekitar 30 orang) pasukan dengan baju terusan (semacam Wearpack) berwarna abu-abu dan helm PHH tanpa tanda kesatuan, menyandang perisai dan pentungan serta senapan laras panjang SS-1 V-1 tanpa magasin yang muncul sore hari tanggal 13 Mei 1998, muncul kembali. Mungkin karena diberitahu seseorang atau karena melihat dandanan mereka yang tanpa kesatuan maka rektor Atma Jaya pun menghampiri mereka dan berbicara dengan komandannya. Ketika ditanya dari kesatuan mana, komandan peleton itu mengaku mereka bukan Brimob namun Kopassus. Dia juga menyatakan mereka siap mengawal mahasiswa ke gedung MPR.

Panser-panser Yonkav 7 Sersus melintas ke arah Bunderah HI meskipun semua moncong senapannya mengarah ke kampus Atma Jaya. Tidak lama setelah konvoi, muncul masa yang mengajak kemudian mengejek dan menghina “Mahasiswa pengecut!” bahkan melempari mahasiswa dengan batu untuk mengajak mereka ke MPR.

Provokasi itu baru berhenti ketika mahasiswa Atma Jaya keluar kampus dan menagih janji komandan Kopassus berdandan PHH untuk mengawal mahasiswa ke MPR. Masa itu pun membaur dengan dua puluhan mahasiswa yang bergerak ke MPR dikawal oleh peleton Kopassus, jumlah seluruh masa hampir 100 orang. Beberapa saat kemudian ada bunyi tembakan dari pasukan lain di sekitar kampus Atma Jaya namun tidak terjadi apa pun sampai mahasiswa yang pergi dengan PHH kembali ke kampus dan bergabung dengan sebagian besar mahasiswa lainnya yang asyik mengikuti mimbar bebas dihalaman kampus.

Ukrida Tanggal 14 Mei 1998

Mahasiswa pun menjalani waktu dengan ngobrol dan main futsal sambil mendengarkan radio. Sekitar jam 14.00, masa bebaju koko, berseragam SMA dan SMP mendatangi dari Mall Taman Anggrek sambil mengacung-acungkan golok dan pentung. Sambil berteriak, “Bakar! Bakar!” mereka berusaha mendobrak gerbang. Mahasiswa pun mempersenjatai diri dengan kayu dan batu untuk menghadapi penyerang.

Tiba-tiba terdengar suara berondongan senapan dari arah Tanjung Duren. Masa pun lari tunggang-langgang. Sebagian masa dengan wajah ketakutan memohon untuk menyelamatkan diri ke dalam kampus. Permintaannya ditolak mentah-mentah. Yang melepaskan tembakan adalah polisi-polisi polsek Tanjung Duren.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.