Dia sahabatku. Setelah ngomel habis-habisan atas berbagai tulisan di internet yang menuduh umat Islam menyembah berhala karena mereka bersujud menghadap Kabah dan mencium batu Hajar Aswad ketika ke Mekah.
Mungkin karena bosan, begitu saja dia berhenti marah lalu menatapku yang sejak tadi mendengarkannya. “Demi Allah, tolong beritahu saya, benarkah orang Islam menyembah berhala Kabah dan Hajar Aswad?”
Melipat tangan di dada, saya membalas tatapannya namun tidak menjawab pertanyaannya. “Apakah umat Islam menyembah berhala?” Dia kembali bertanya.
Tersenyum, aku berakata, “Banyak yang tidak mau memasuki ruangannya meskipun melewati pintunya.” Sahabatku menatapku dan aku membiarkannya demikian.
“Demi Allah, jawablah dengan jujur. Benarkah umat Islam menyembah berhala?” Tanyanya. Matanya tulus memancarkan rasa haus.
Saya membalas tatapannya lalu berkata, “Saya bukan ahli Alquran.” Dia melotot lalu berkata, “Saya tidak bertanya kepada ahli Alquran. Aku bertanya padamu, apa pendapatmu tentang Ka’bah?”
Tersenyum, saya menjawab, “Saya bukan orang Islam.” Dia berkata ketus, “Aku tidak bertanya kepada orang Islam namun bertanya padamu, apa pendapatmu tentang Ka’bah? Kamu menyebut diri Tionghoa Kristen. Apa pendapatmu tentang Ka’bah?” Kejarnya.
Menatapnya, kumenjawab, “Saya bukan orang Islam dan bukan ahli Alquran, pendapat saya bisa saja salah bahkan bertentangan dengan ajaran Alquran.”
Dia menatap saya tanpa menyembunyikan kesalnya, “Aku hanya ingin tahu, apa pendapatmu tentang Ka’bah?”
Ngakak ku pun berkata, “Menurut saya, Kabah baik-baik saja!”
Dia melayangkan tinjunya menghantam lengan atas saya. Sakit. Setelah rasa sakti hilang, aku menatapnya tajam, dan berkata, “Menurutku, umat Islam bersujud kepada Kabah karena, Kabah adalah ajaran tertinggi agama.”
Sahabatku mengernyitkan dahinya, matanya penuh tanya, aku menganggukan kepalaku meyakinkannya.
Sahabatku: Ketika Solat, umat Islam menghadap Kabah. Dan hanya menghadap Kabah. Apakah Kabah adalah berhala?
Aku: Umat Islam menyembah Allah dengan bersujud kepada Kabah. Itulah kebenarannya.
Sahabatku:Apakah Kabah adalah berhala?
Aku: Berhala adalah buatan manusia yang disujuti seolah Allah. Itulah berhala.
Sahabatku: Solat menghadap Kabah adalah perintah Allah.
Aku: Perintah Allah tidak mengubah fakta bahwa Kabah adalah buatan manusia dan umat Islam di seluruh dunia bersujud menghadapnya setiap kali solat.
Sahabatku: Allah melarang umat Islam menyembah berhala.
Aku: Namun Allah menyuruh umat Islam solat menghadap Kabah. Ketika umat Islam menyembah Allah, mereka bersujud kepada Kabah.
Sahabatku:Kenapa Allah yang mengharamkan berhala menyuruh manusia bersujud ke Kabah? Adakah yang salah dengan ajaran Alquran?
Aku: Saya tidak tahu! Namun Alquran adalah standard kebenaran umat Islam. Standard kebenaran mustahil salah.
Aku membiarkan sahabatku merenung. Dia seorang muslim yang saleh. Rajin solat dan rajin mengaji serta rajin mempelajari Alquran. Dia mengungkapkan cintanya kepada Allah dengan mengasihi sesama manusia.
Sahabatku: Sahabatku.
Aku menganggukkan kepala membalas sapaannya.
Sahabatku: Sahabatku. Tolong nasehati aku, apa yang harus aku lakukan?
Setelah menatapnya tajam-tajam, mengukur ketulusan hatinya, aku berkata;
Aku: Pergilah haji.
Sahabatku:pergi haji? Apa yang akan ku dapat dengan naik haji?
Aku: Mengunjungi Kabah! Mengunjungi Mekah.
Sahabatku: Apa yang kan kudapat dengan mengunjungi Kabah dan Mekah?
Aku mengulangi pertanyaannya, “Apa yang aku dapat dengan mengunjungi Kabah?” Lalu menatapnya jail. Dia melotot namun tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya yang membludak. Aku ngakak. Dia mengernyitkan keningnya, berpikir. Keheningan menguasai ruang di antara kami. Entah berapa lama hal itu berlangsung. Akhirnya dia memecah kesenyapan dengan suaranya yang sinis.
Sahabatku: Menyerah! Tolong ajari aku.
Setelah menatapnya lekat-lekat, aku pun berkata;
Aku: Pergi Haji maka engkau akan melihat Mekah. Negeri di mana nabi tinggal. Selain Mekah engkau juga akan melihat Kabah. Ketika melihat Kabah, apa yang engkau lihat?
Sahabatku: Pergi Haji maka engkau akan melihat Kabah. Ketika melihat Kabah, apa yang engkau lihat? Melihat Kabah? Melihat kabah, hanya melihat Kabah.
Aku: Apa arti Kabah?
Sahabatku: Kabah artinya rumah tua.
Aku: Rumah tua artinya Baitul ‘Atiq, kawan, bukan Kabah.
Sahabatku: Kabah ….. Artinya Kubus
Aku: Pernahkah orang Arab berkata, ‘Ini Kabah.’ Ketika melihat Kubus?
Sahabatku: Konon katanya, Kabah artinya Kubus.
Aku: konon, Kabah ditafsirkan sebagai kubus oleh orang Arab karena mereka tidak tahu apa arti sebenarnya dari Kabah. Konon lho ya. Ha ha ha ha ha ha …
Sahabatku: Kalau begitu, apa arti Kabah?
Aku: Saya tidak tahu.
Sahabatku: Sialan! Udah nggak tahu masih sok jagoan nyalahin orang lain? Dasar!
Aku: Orang Arab yang tidak tahu arti Kabah memberinya arti KUBUS. Kenapa kita yang tidak mengerti arti KABAH tidak boleh memberinya ARTI baru? Ha ha ha ha ha ….. namanya juga usaha!
Sahabatku: Like-like lu lah! Apa Arti Kabah?
Aku: Kamu nggak pernah naik haji, itu sebabnya nggak pernah melihat Kabah. Kalau pun pernah Haji, kamu hanya melihat Kabah dari luarnya saja. Namun, banyak buku yang menulis tentang Kabah, baik bagunannya maupun isi ruangannya. Di internet pun tulisan-tulisan demikian bertebaran.
Sahabatku: Lho. Kok melintir ke mana-mana? Jadi apa artinya Kabah, kisanak?
Aku: Kabah artinya Allah Tidak ada di sini.
Sahabatku: Kabah artinya Allah tidak ada di sini?
Aku: Kabah artinya Allah Tidak ada di sini.
Sahabatku menatapku sambil megnernyitkan keningnya. Sinar matanya mencorong seolah berusaha menembus ke dalam kepalaku untuk melongok isinya. Tak peduli tatapannya, aku melanjutkan.
Aku: Pada saat seorang muslim naik haji dia pun melihat negeri tempat tinggal Nabi. Di sana dia akan melihat bahwa semuanya biasa saja. Mekah dihuni oleh sesama manusia. Mekah tidak dihuni oleh dewa-dewi. Orang-orang Arab hanya sama manusia belaka. Di Mekah dia mengunjungi Kabah untuk melihat apa yang selama ini disujutinya setiap hari, setiap kali solat. Apa yang ditemukan di Kabah?
Sahabatku: Apa yang ditemukan di Kabah?
Aku: Konon, pada zaman jahilliyah (kegelapan) di Kabah ada 360 patung berhala yang kepadanya penduduk Arab bersujud menyembah. Atas perintah nabi berhala-berhala itu pun lalu dimusnahkan.
Sahabatku: Apa yang ditemukan di Kabah?
Aku: Allah tidak ada di sini!
Sahabatku: Apa yang ditemukan di Kabah? Allah tidak ada di sini!
Aku: Allah tidak ada di ini karena ini hanya Kabah. Allah tidak ada di sini karena ini hanya rumah tua (Baitul ‘Atiq). Allah tidak ada di sini karena Allah bukan buatan manusia. Allah tidak ada di sini sebab Allah tidak tinggal di rumah buatan manusia. Allah tidak ada di sini karena Allah bukan berhala. Allah adalah Yang Mahatinggi.
Sahabatku: Allah tidak ada di sini karena Allah adalah Yang Mahatinggi? Maksudmu, Allah ada di tempat yang tinggi?
Aku: Karena tidak ada di Kabah yang disujuti oleh umat Islam dari seluruh dunia setiap kali solat, mustahil Allah ada di tempat yang tinggi. Kisanak, tentang Kabah sebagai kiblat, inilah yang tercatat:
Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 144).
Sahabatku: Bila tidak ada di tempat yang tinggi, kenapa dikatakan Allah adalah Yang Mahatinggi?
Aku: Allah Mahatinggi bukan karena Dia tinggal di tempat yang tinggi namun karena di tempat paling tinggi sekalipun Allah tetap ditinggikan dan di tempat yang paling rendah sekali pun Dia tetap Mahatinggi.
Sahabatku: Kenapa kiblat ke Kabah? Bukankah sebelumnya itu rumah berhala?
Aku: Karena ada yang menangadah ke langit seolah Allah tinggal di sana, itu sebabnya Allah memalingkannya ke Kabah, bekas rumah berhala untuk mengingatkan manusia dari generasi ke generasi bahwa Dia tidak ada di di langit apalagi di Kabah.
Sahabatku: Bila tidak ada di Kabah, lalu Allah ada di mana? Mesjid?
Aku: Bila Allah ada di Kabah, bukankah naik haji berarti berkunjung ke rumah Allah? Bila Allah ada di mesjid bukankah seharusnya mesjid disebut rumah Allah, rumah tempat Allah tinggal? Namun selama ini kita menyebut mesjid rumah ibadah. Rumah ibadah artinya rumah tempat manusia menjalankan ibadahnya.
Sahabatku: Bila tidak ada di Kabah dan mesjid, lalu Allah ada di mana?
Aku: Allah ada di sini.
Sahabatku: Allah ada di sini?
Aku: Allah ada di sini. Itu sebabnya semua orang solat di sini bukan? Semua orang menyembah-Nya di sini bukan? Semua orang bersujud kepadanya di sini bukan? Allah ada si sini itu sebabnya meskipun bersujud ke arah Kabah yang dulunya adalah rumah berhala, tidak menjadikan umat Islam menyembah berhala.
Sahabatku: Kenapa tidak ada yang keberatan menyembah Allah denan bersujud ke Kabah? Bukankah mereka tahu itu bekas rumah berhala?
Aku: Islam artinya tunduk atau patuh. Muslim artinya orang yang taat. Itu sebabnya mereka TAAT ketika disuruh Allah untuk menyembah-Nya dengan bersujud ke Kabah rumah buatan manusia bahkan bekas rumah berhala. Adakah ketaatan atau kepatuhan yang melebihi hal demikian? Mau menyembah-Ku? Silahkan, namun lakukanlah itu dengan bersujud ke arah rumah berhala. Adakah ketaatan dan kepatuhan serta kerendahan hati yang melebihi hal demikian? Sahabatku?
Sahabatku: Sahabatku ….
Aku: Itu sebabnya disebut Islam. Oleh karena mereka adalah muslim.
Bersedekap, sahabatku menatapku tajam. Bibirnya tersenyum hampir ngakak. Dia lalu berkata,
Sahabatku: Sahabatku …. Engkau seorang Tionghoa Kristen. Itukah yang engkau ajarkan tentang Kabah?
Aku: Itulah yang aku pahami ketika mempelajari Kabah dan kiblat di Alquran dan Hadist. Aku hanya meneruskannya, tidak membuat ajaran baru. Entalah, pemahamanku itu benar atau salah. Namun, itulah yang aku pahami sebagai seorang Tionghoa Kristen yang mempelajari Alquran.
Sahabatku itu mengubah duduk silanya menjadi bersimpuh. Dia lalu menurunkan kepalanya hingga menyentuh lantai sambil berkata, “Sahabatku!” Aku pun mengubah silaku menjadi simpuh dan menurunkan kepalaku hingga menyentuh lantai dan berkata, “Sahabatku!”. Orang-orang yang tidak mengerti pasti menyangka kami adalah dua orang gila yang saling menyembah padahal kami hanya dua orang sahabat yang sedang menyatakan cinta kasih dan hormat dengan saling merendahkan diri satu kepada yang lainnya.

Menurut saya, mengatakan kebenaran dengan cara Pak Paulus di atas, malahan mata orang jadi tidak akan terbuka terhadap kebenaran itu sendiri. kemukakan segalanya dengan halus dan kooperatif, dengan bahasa yg tidak akan menyinggung pihak lain. jika ada muslimin di sini, LUKUM DINUKUM WALIYADIN. Agamamu untukmu, agamaku untukku. Muhammad dan Quran untukmu, Yesus dan Alkitab untukku. janganlah kalian saling berdebat kusir apalagi mencaci maki. justi kagta2 kasar itu menunjukkan bahwa kalian tidak beragama. Karena agama mengajarkan kebaikan.
LUKUM DINUKUM WALIYADIN……
Kontradiksi dengan GKI Taman Yasmin … HKBP Filadelfia …. GBKP Buah Batu Bandung …udah punya izin juga …ngga boleh ibadah …padahal ibadah ku ibadahku … ibadahmu soklah …ibadahmu mainkan ……
Fenomena negara gagal karena dijalankan oleh orang bermasalah yang menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru.
Agama mengajarkan kebaikan ….. yang suka membredel gereja (perbuatan tidak baik berarti tak beragama ya
Yang bunuh Rohingya (perbutan tidak baik ..berarti tidak beragama ya…..)
Yang bakar Alquran (perbuatan tak baik) ….. tak beragama kah?
Ngga ada hubungan antara AGAMA dan perbuatan baik ….karena ada banyak orang tak beragama yang perbuatannya jauh lebih baik dari orang beragama)
Bila pak hai2 blg paulus sok pahlawan berarti kan ada komennya yg menunjukan hal itu dan itu pak hai2 yg tahu, kok nanya saya. Hehe, jd pusink saya. Ato cm iseng aj nih blg sok pahlawan? Capedehhhh
SAYA BISA BUKTIKAN KESALAHAN ALQURAN ……
silahkan buktikan …pengen tau ..kok ada umat yang mau percaya terhadap KITAB SUCI yang salah
Standar anda apa ya untuk …bilang ALQURAN salah atau benar …jangan jangan anda sebagai standar. hati hati saja …. kalau manusia yang penuh dosa ini sebagai standar.
Saya sih ngga peduli mau ALQURAN salah atau benar ….. wong saya ngga percaya
DIKALANGAN MUSLIM AJARAN YG TERMAKTUB DLM ALQURAN TDK BOLEH DIUJI,DITANYAKAN APALAGI DIBANTAH
Kenapa ngga boleh … kalau ngga boleh diuji dan dianggap punya kuasa skati mandraguna ya …. BERHALA dong namanya ….
Yang saya tau waktu SALMAN RUSHDIE …. pengarang AYAT SETAN di FATWA mati …. nah lo … kok bisa manusia menghilangkan nyawa manusia lain … kok yang empunya saja (TUHAN) penciptanya ngga sembarang ngilangin nyawa kok
Nah ini standar yang dipakai apa … ALQURAN kah ? saya ngga percaya ada ajaran yang begitu kejamnya sampai diperkenan membunuh manusia lain
Kalau standar ALKITAB jelas : JANGAN MEMBUNUH ….
saya bukan tendensi menjelekkan agama tertentu …. saya hanya diskusi
namanya manusia ya … bisa aja salah …tetapi lebih salah lagi kalau menganggap apa yang manusia pikir adalah selalu benar apalagi tk ada standar nya
@Luky Wijaya, anggap saja hai hai lagi KONSLET. Nggak perlu diperpanjang bukan?
Setuju aj deh, udh ga nongol lg si paulus jg. Udh digebukin warga kali ya krn blg agama tetangga agama kekerasan.HHehe
Kl bakar quran sih bkn tdk baik tp GOBLOK, emg bs pindah agama semua yg islam kl quran dibakar? Emg bs abis quran diseluruh dibakar?
Kl aye jdi muslim tinggal cetak lg aj n blg aqu mengampunimu pak pendeta, jamin adalah beberapa puluh yg masuk jd islam.
Betul kt pak hai2, terlalu bnyk di dunia ini yg menyelesaikan mslh dgn mslh. Hehe
Rasakan Ka’bah adalah symbol atau isyarat jasad manusia. Sesuai dengan perintah Alloh kepada malaikat untuk sujud kepada Adam.Sujud artinya mencium(sayang dan cinta) bukan menyembah, makanya yang terdekat dengan ka’bah mereka thawaf sambil memberi sapaan memuliakan(memuliakan jasadnya sendiri bersama Alloh memuliakan manusia).dan yang paling dekat lagi mencium hajar aswat dan dinding ka’bah (tidak sujud), sedangkan yang jauh mencium tanah dengan menghadap ka’bah. Sujud wujud dari cinta dan sayang Alloh kepada manusia, makanya malaikat pasti bersama orang yang sholat.Yang tidak mau sujud berarti tidak mau Alloh mencintainya dan tidak mau malaikat semua mencium jasadnya sesuai perintah Alloh kepada malaikat dari saat Adam diciptakan. Jadi Alloh memang tidak pernah mendzalimi manusia tapi manusia sendiri yang dzalim pada dirinya sendiri dengan tidak mau sujud (Alloh ijinkan orang tidak mau sujud seperti Alloh ijinkan Iblis berbuat yang diinginkan).
Kalau berhala pasti dijaga dan tidak boleh disentuh sembarang orang apalagi dicium yang bisa jadi menempelnya keringat bahkan darah.Disinilah bedanya islam dengan selain islam, manusia semua islam fitrahnya dari perintah sholat, tapi ucapan dan perilakunya yang membuat manusia disebut munafik.
Perintah sholat sebenarnya setiap waktu wajib sholat tapi Rosul dan Alloh tahu ummat manusia tidak akan mampu karena sifat dunia, jadi dijadikan 5 waktu sesuai perubahan waktu.
Jadi sudah jelas sholat jauh dari perkataan menyembah berhala.
Manusia yang mau merasakan dan mengakui jasadnya adalah ka’bah itu sendiri, disekeliling dia jadi tanah haram juga yang Alloh lindungi. Seperti Alloh melindungi Ka’bah dan tanah haram.
@mochammad_sulton, maukah anda mengutip ayat-ayat Alquran yang mengajarkan hal yang anda ajarkan tersebut di atas?
Berikut ini bukti-bukti Hajar Aswad dan Kabah bukan Allah, dan muslim tidak menyembah Hajar Aswad dan Kabah
:
1.Jika berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui arah mata anginnya, atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok, maka umat Islam boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja.
Karena Allah berfirman:
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah 115).
Ka’bah sebagai penentu arah sholat bukan objek yg disembah
“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.Al-Baqarah :144)
Jadi intinya bukan menyembah batu tapi inti dari ajaran itu ialah ketundukan kepada Tuhan mereka. Pengakuan bahwa Allah itu Rabb mereka. Analoginya begini, misalkan anda disuruh oleh orang tua anda untuk mencium komputer di depan anda lalu anda menuruti, lalu apakah ini berarti anda menyembah komputer ? Tentu orang yg berfikiran jenih mengatakan tidak. Anda melakukan itu karena wujud taat dan tunduk kepada peintah orang tua, sebagai wujud bakti anda sebagai anak kepada orang tua. Nah begitulah ummat islam dalam melakukan sholat dan thowaf kenapa mereka menghadap batu dan mencium batu.Itu karena wujud ketaatan kepada Allah, Tuhan mereka memerintahkan dalam ajaran Nya supaya melakukan demikian. Mereka tidak menganggap batu itu istimewa
2. Tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan disembunyikan oleh kaum Syi’ah golongan Ismailiyah Qarmathi.
Apakah dengan hilangnya batu itu lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi karena hajar aswad sudah tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun selama 21 tahun itu umat Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat Islam itu shalat menyembah hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka libur shalat. Tapi nyatanya tidak. Umat Islam tetap shalat menghadap kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak, karena esensi mereka ialah mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan menyembah batu.
3. Setelah Hajar Aswad itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan antara batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Apakah umat Islam heboh karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat Islam itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang, tetapi Allah tetap ada dan kekal sampai selama-lamanya. Inilah bukti bahwa Allah bukan batu, dan batu tidak sama dengan Allah. Lagipula jika muslim menganggap Hajar Aswad adalah Allah, pasti akan banyak duplikat/tiruan batu itu di setiap Masjid? Seperti umat Hindu, Budha dan Kristen yang memajang patung Tuhan mereka untuk disembah, dipuja, tempat menghaturkan doa dsb di rumah ibadah masing-masing. Tapi nyatanya tidak ada satupun Masjid atau rumah seorang muslim yg punya duplikat/tiruan/patung/lukisan Hajar Aswad.
4. Dahulu pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di atas Ka’bah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Mereka melakukan itu lima kali sehari. Rasulullah tak pernah menegur maupun melarangnya. Jika Ka’bah adalah Tuhan yang disembah oleh umat Islam, mana mungkin para shahabat ketika itu berani menginjak-injak Tuhannya?
5. Sampai saat ini, para petugas juga naik dan berdiri di atas Ka’bah ketika mengganti Kisywah (kain kelambu penutup Ka’bah). Ini juga bukti nyata bahwa sampai saat ini dan sampai kapan saja tak seorang pun umat Islam yang menyembah Ka’bah. Andai kata mereka menganggap Ka’bah sebagai tuhan yang disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan menginjak Ka’bah?
6. Ketika thawaf dengan menunggang seekor unta, Rasulullah SAW pernah tidak mencium hajar Aswad, melainkan menyentuhnya dengan tongkat beliau. (HR. Bukhari juz 2 nomor 677). Jika Nabi pada waktu hidupnya menyembah hajar aswad, mana mungkin beliau berani menyentuh Tuhannya dengan sebuah tongkat sambil duduk di atas unta? Teladan Nabi ini membuktikan bahwa beliau tidak menyembah hajar aswad. Jika Hajar Aswad adalah Tuhan, tidak mungkin Rasulullah berani dengan lancangnya menyentuh hanya dengan tongkat bukan dengan tangan atau menghormatinya sedemikian rupa, apa Rasulullah tidak takut kualat? Tentu saja tidak karena Hajar Aswat bukanlah apa-apa
7. Ketundukan ini pula yang telah dilakukan oleh shahabat Umar RA ketika haji. Dalam hadits shahih dikisahkan bahwa beliau datang mendekati Hajar Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya dan berkata:
“Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak pula mendatangkan manfaat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu pula” (HR.Bukhari dari Abis bin Rabi’ah RA).
Jika memang Hajar Aswad adalah Allah, maka tentu saja Rasulullah akan marah dan membantah perkataan Umar tapi nyatanya TIDAK.
Camkan ayat-ayat ini:
Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan; TIDAK PULA ADA SEORANG PUN YANG SETARA DENGAN-NYA.” (QS al-Ikhlas: 1-4).
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan TIDAK ADA SESUATUPUN YANG MENYERUPAI-NYA”. (Q.S. As-Syura: 11)
Jadi sangat jelas Allah tidak setara dengan makluknya dan tidak mungkin menyerupai makhluk-Nya. Apalagi dianggap sama dengan batu Hajar Aswad. Sudah jelas sekarang bahwa Hajar Aswad bukan Allah yang kami sembah